Pasca pemetaan sosial (social mapping) terhadap suatu wilayah, terdapat beberapa tahapan yang harus dilakukan untuk memulai suatu program pemberdayaan. Tahapan-tahapan tersebut diperlukan untuk memudahkan pelaksanaan program baik secara teknis maupun strategis.
Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa sejak tahun 2006 memberikan sumbangsih bagi agenda keamanan pangan melalui berbagai program. Program ini kini ditajamkan dan diperluas cakupannya dalam naungan bendera program “Pangan Sehat untuk Negeriku”.
Di kota Rotterdam, Belanda, Tim REDs mendapatkan kesempatan belajar
pengembangan ekonomi lokal di HIS Erasmus University. Selain mendapatkan
materi akademik, dua pekan lebih, kami berkesempatan melakukan
kunjungan dan berinteraksi langsung dengan pelaku/stakeholder ekonomi
lokal di Provinsi Limburg dan Westland.
Masyarakat Mandiri (MM) sebagai sebuah lembaga pemberdayaan masyarakat
selalu melakukan kegiatan pemetaan wilayah dalam setiap perencanaan
pelaksanaan kegiatan program. Tulisan berikut akan menggambarkan secara
umum salah satu tahapan dalam pelaksanaan program pengembangan
masyarakat yaitu tahap pemetaan sosial. Pemetaan sosial sangat penting
dilakukan untuk memberikan gambaran awal tentang kondisi sosial, ekonomi
dan budaya masyarakat dalam suatu wilayah yang akan menjadi sasaran
program.
Inilah buku Serial Pelajaran Berharga dari Ikhtiar Pemberdayaan terbitan pertama kami. Pada buku pertama ini kami menyajikan judul "Menabung Gula untuk Pendidikan". Ditulis berdasarkan catatan perjalanan Program Pemberdayaan Komite Sekolah untuk Mendukung Kegiatan Pendidikan Dasar 9 Tahun Melalui Gerakan Lima Kilogram Gula Kelapa (GELIPA) di Kec. Ciracap, Kab. Sukabumi, Jawa Barat.
Buku dibuat dua bahasa (Indonesia dan Inggris), melibatkan Tim Penulis Munipah dan Agung Pardini, keduanya terlibat dalam program yang dijalankan. Editor buku ini Hery D. Kurniawan sekaligus menangani artistik.
Studi kasus : Desa Muara Kecamatan Teluk Naga Kabupaten Tangerang
Hasil Penelitian : Ninies Ardhiani (Program Sarjana Reguler Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial, FISIP-UI)
Abstrak
Kemiskinan merupakan masalah utama dalam pembangunan, sebab dari
kemiskinan itu akan timbul permasalahan-permasalahan lainya yang
tentunya bisa berdampak negatif jika kemiskinan tersebut tidak
dientaskan. Salah satu upaya penanggulangan kemiskinan, pendekatan yang
perlu digunakan adalah pemberdayaan masyarakat yan menempatkan
masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan. Proses ini tidak timbul
secara otomatis melainkan tumbuh dan berkembang berdasarkan interaksi
masyarakat setempat dengan pihak luar, yaitu community worker yang
mengerti mengenai program masyarakat dan masyarakat yang menjadi
sasarannya. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini mebahas mengenai
peran community worker di Lembaga Masyarakat mandiri (MM) dalam proses
pemberdayaan ekonomi Masyarakat di Desa Muara Kecamatan Teluk Naga
kabupaten Tangerang.
Berkembangnya ekonomi syariah di Indonesia mempunyai dampak yang sangat positif sekali terhadap perkembangan perubahan iklim perekonomian yang berjalan. Salah satu di contohnya adalah munculnya berbagai macam Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia khususnya di daerah – daerah. Dari sisi profit, lembaga-lembaga tersebut mampu meraih keuntungan. Namun, di sisi nasabah masih belum banyak mengerti apa yang disebut dengan konsep ekonomi syariah tersebut. Boleh jadi sebagian orang hanya ‘ikut-ikutan’ dengan trend yang ada. Tentu keuntungan model ekonomi syariah dengan penerapan bagi hasil tanpa bunga. ,
Irah, pengerajin gula kelapa, bermimpi anak-anaknya bisa bersekolah
tinggi. Dengan pendapatan minim Irah membangun mimpi mulia. Bersama
ratusan petani kelapa di Desa Wora-wari, Kec. Kebonagung, Pacitan, Jawa
Timur yang menggantungkan hidupnya pada pembuatan gula merah, Irah
secara perlahan belajar tentang sebuah perubahan melalui pendampingan
oleh Masyarakat Mandiri (MM) Dompet Dhuafa. Mereka belajar tentang
mutu, jenis produk kelapa dan juga tentang pengembangan pasar.
Pendampingan yang dilakukan oleh MM ini adalah salah satu bentuk cara
mengoptimalkan penggunaan dana zakat, infak dan sedekah.
Masyarakat kelompok bawah mulai dari komunitas keluarga pekerja/buruh serabutan, supir, buruh pabrik, pedagang mikro/kecil, petani buruh dan sebagainya, guna menghadapi beratnya himpitan globalisasi ekonomi yang tidak adil dan untuk memenuhi kebutuhan selain kebutuhan pokok, seringkali harus memutar otak untuk mencari jalan pintas yaitu “gali lubang tutup lubang” artinya mencari utangan dari berbagai sumber entah dari antar tetangga, teman, pelepas uang atau yang lainnya namun dalam jumlah yang kecil untuk menutupi defisit anggaran rumah tangga atau usahanya supaya dapur tetap ngebul dan usaha tetap berputar. Bagi mereka ini yang penting dengan kondisi ekonomi yang serba tidak menentu, masih bisa bertahan hidup.
Masyarakat Mandiri berusaha memberikan kontribusi pada masalah
ketahanan pangan yang menjadi isu penting negara kita. Ketahanan pangan
tidak lepas dari ketersediaan cadangan pangan di tingkat daerah yang
bisa diakses olah tiap keluarga. Kebalikannya, ketika tidak bisa
diakses oleh keluarga maka konsekuensinya terjadi kerawanan pangan,
kekurangan gizi dan kelaparan. Konsep ketahanan pangan terintegrasi,
mencakup berbagai aspek, diantaranya: diversifikasi pangan, gizi
pangan, pengadaan sumber pangan, dan distribusi. Untuk meningkatkan
cadangan pangan maka perlu satu pilot project yang diarahkan pada
pemanfaatan potensi pangan domestik secara maksimal.