Minggu 20-Mei-2012
Ahad 28 Jam Akhir 1433
Website ini bisa diakses versi mobile-nya di gadget Anda!
Menu Utama
Iklan





Hit Counter

 
Versi CetakVersi Cetak
Siti Komariyah, Menegakkan Koperasi dengan Hati

Dulu Kabar Mandiri edisi 13 menulis tentang Siti Komariyah penjual nasi jagung di Surabaya yang tangguh, semangatnya melampaui keadaan ekonomi keluarganya yang pas-pasan. Tulisan yang Anda baca ini menorehkan Siti Komariyah dari Ciamis yang semangatnya melampaui keadaan fisiknya, demi kemajuan lembaga ekonomi yang ia yakini bisa menopang kesejahteraan warga sekitar.

Siapa yang tidak kenal dengan Cikoneng, Ciamis? Wilayah perbatasan antara Ciamis dan Tasikmalaya, yang terkenal dengan aneka usaha industri rumah tangganya, mulai dari cilok, cireng, cimol, sampai usaha kreditan. Aneka makanan ringan yang agak aneh untuk didengar namanya seperti kerupuk cubit, kremes, atau RO-Ranginang Oyek, dan puluhan jenis makanan ringan lainnya dihasilkan di Cikoneng.

Aku sebagai pendamping begitu bersemangat, penasaran, dan sedikit cemas mendampingi komunitas di Desa Margaluyu ini. Wajar saja, karena ini akan menjadi suatu pengalaman, dan cerita yang akan sangat menarik kelak. Mungkin akan menjadi kenangan tersendiri menjelajahi langkah-langkah pemberdayaan masyarakat yang memang sangat membutuhkan bantuan untuk melebarkan kepakan sayap mereka. Harapannya, setidaknya mereka dapat mencicipi kemapanan finansial, bahkan pengetahuan merekapun akan turut bertambah.

Empat bulan sudah aku berjalan menapaki jejak-jeak langkah kaki ini ternyata kurasa cukup untuk membuat sebuah kisah sinetron yang menggambarkan perjalanan sebuah kelembagaan koperasi KSU Ikhtiar Swadaya Mitra Subur Jaya. Ada semangat kuat bersemayam di hati beberapa kader koperasi yang saya kenal.

Ada sesosok perempuan yang paling bersemangat yang saya kenal. Namanya Siti Komariyah. Beberapa mitra dampingan memanggilnya Nyi Siti. Nyi yang artinya perempuan muda, muda karena dari sekian banyak mitra Siti lebih yunior. Perempuan berusia 33 tahun ini belum lama menjadi ketua sementara sebuah koperasi yang tengah mengalami krisis. Sebelumnya ia menjadi bendahara ketika manajemen koperasi mengalami kemandegan.

Ketika ia menjadi bendahara, Siti terhitung paling tekun mengurusi lembaga komunitas. Namun, seorang mitra dampingan merasa prihatin melihat keadaan itu. “Ari Nyi Siti mah damel di koperasi sorangan wae, serasa teu aya nu ngabantuan (Siti ini kerja sendirian di koperasi, seperti tak ada yang membantu,” keluh mitra itu.

Saya sebagai pendamping baru penasaran dengan keadaan ini. “Kenapa bisa seperti itu?” Mitra itu menjelaskan, “Pan nguruskeun pencatatan angsuran mitra sadayana sorangan, geuning aya ketua sareng pangurus teh teu berfungsi maksimal.. kesian abdi mah ku Nyi Siti. (Kan mengurusi pencatatan angsuran pembiayaan mitra semuanya dia yang mengurusi sendirian, padahal ada ketua dan pengurus lain, tampaknya tidak berfungsi maksimal. Kasihan saya ke Nyi Siti),” papar ibu itu.

Koperasi sempat dalam keadaan bak anak ayam kehilangan induknya. Siti dan beberapa perempuan berusaha membenahi kelembagaan. Di saat mereka sedang sangat membutuhkan bantuan untuk mencoba berdiri, di saat itu pula mereka terjatuh dan merangkak kembali.

Suatu hari saya aku dengan Wawan, suami Siti. Lewat obrolan itu aku tahu sedikit banyak tentang perjuangan sang istri menjadi pengurus ISM (Bendahara ISM). Siti bekerja sampai larut malam demi mengerjakan laporan keuangan ISM. Semua sudah mulai menjadi rutinitasnya, terutama menjelang akhir-akhir bulan. Terkadang lupa bahwa dirinya pernah menderita penyakit empedu, yang sewaktu-waktu bisa kambuh karena terlalu capek.

Keterbatasan fisiknya kerap ia abaikan. Semua karena kerelaan diri. Kepeduliannya pada ISM serta masyarakat sekitar binaannya. Aku pernah mendengar sendiri, kerelaannya semata-mata ia ingin memberdayakan sesama. Dengan makna yang lebih lengkap, pemberdayaan berarti memberikan kesempatan kepada keluarga miskin untuk merasakan hidup lebih layak, pemberdayaan memberikan manfaat bagi sesama, bukan untuk pibadi. Mulutnya bergetar saat kata itu terlontarkan, ketika sebagian besar mitra merasa sangat membutuhkan, ketika itu pula dia berani mengambil keputusan.

Dari Sitilah, aku sebagai pendamping makin menemukan makna pengabdian. Pengabdian bukan sekadar memberikan materi. Pengabdian bukan sekadar mendampingi. Pengabdian merupakan tempat untuk berbagi.

Diposting oleh Abdul Manaf
Diposting pada hari Kamis, 08 Desember 2011 12:28:31


<<-- Kembali


Sinergi & CSR



HIGHLIGHT


Program Kelompok Pengusaha Makanan Sehat (KPMS) Kerjasama dengan Hypermart
Program Kelompok Pengusaha Makanan Sehat (KPMS) Kerjasama dengan Hypermart
PEMBERDAYAAN EKONOMI PEREMPUAN PERKOTAAN KERJASAMA DENGAN KESUMA TIARA
PEMBERDAYAAN EKONOMI PEREMPUAN PERKOTAAN KERJASAMA DENGAN KESUMA TIARA

Woro-Woro



 
Spirit



Sepenuh Hati dari Titik Awal
Sepenuh Hati dari Titik Awal
Manifesto Pemberdayaan: Inovasi Tiada Henti
Manifesto Pemberdayaan: Inovasi Tiada Henti
Mimpi untuk  Indonesia
Mimpi untuk Indonesia
With Sweet Potatoes, From Kuningan to Rotterdam
With Sweet Potatoes, From Kuningan to Rotterdam
Hopes and Dreams of ISMs
Hopes and Dreams of ISMs


Photo Gallery


Ismail A. Said, Presdir Dompet Dhuafa bersama jajaran Masyarakat Mandiri, LP POM MUI, dan Pemda Jaka


Video Gallery


Revitalisasi Posyandu dengan Usaha Ekonomi di Tangerang
Revitalisasi Posyandu dengan Usaha Ekonomi di Tangerang
Menjadikan Petani Kelapa Tuan Rumah di Negeri Sendiri
Kampung Tahu
Kampung Tahu (part2)
Batik Alami
Batik Alami 1
Kecil-kecil Bersertifikat Halal
Ikrar Mitra
Penguatan IRT Snack Ciamis
Pemberdayaan Perempuan Penjual Makanan di Surabaya
Pemberdayaan Perempuan Penjual Makanan di Surabaya (2)
Nabung Gula Buat Sekolah (1)
Nabung Gula Buat Sekolah (2)
Ketahanan Pangan (Singkong) di Lampung
Ketahanan Pangan (Singkong) di Lampung (2)
Warung Anak Sehat

 

 
Designed & Developed By Solusi-IT.Com