Presiden Bu Sarinah....
Bu Sarinah adalah pedagang getuk lindri, makanan olahan dari singkong. Seorang ibu berputra tiga, usianya sekitar 45 tahun (Bu Sarinah sendiri lupa kapan tepatnya ia lahir). Setiap hari Bu Sarinah menjajakan dagangannya di pasar Tanjung Qencana, tetangga Desa Tambah Subur, Kecamatan Way Bungur, lokasi pendampingan Program Ketahanan Pangan Singkong di Lampung Timur.
Karena usaha getuknya, Bu Sarinah dijadikan salah satu calon mitra (pemetik manfaat program). Jadilah suatu pagi saya silaturahim ke rumahnya, bermaksud mengajak beliau bergabung dengan kelompok usaha turunan singkong bentukan program Masyarakat Mandiri di sana. Setelah memperkenalkan diri dan lembaga, saya mulai menjelaskan maksud dan tujuan program. Bu Sarinah mengangguk-angguk tanda faham, setidaknya begitu perkiraan saya. Dan ketika akhirnya saya closing, ternyata Bu Sarinah bersedia bergabung. Jadilah obrolan hari itu dilanjutkan untuk mengumpulkan data SKM (Studi Kelayakan Mitra). Wawancara santai dengan Bu
Sarinah diselingi cerita dan gurauan. Bu Sarinah yang lahir di Lampung rupanya belum pernah menjejakkan kakinya di Pulau Jawa meskipun orang tuanya adalah orang Jawa, yang ikut program transmigrasi dari pemerintah.
Di tengah obrolan kami, tiba-tiba Bu Sarinah melontarkan pertanyaan, "Teng Jawi presidene nopo sami kados teng ngriki to, Dek? (Di Jawa presidennya apa sama dengan di sini ya, Dek?)". Saya terdiam sesaat, tidak menyangka akan dapat pertanyaan sepolos itu.
Di tengah majunya teknologi dan arus globalisasi, ternyata masih ada orang sepolos Bu Sarinah. Padahal Tambah Subur bukanlah desa terbelakang atau terpencil, meskipun letaknya agak jauh dari keramaian kota. Listrik memang baru ada sekitar empat tahun yang lalu, tapi sebagian masyarakat sudah mempunyai TV. Setidaknya dalam pandangan saya pengetahuan mereka akan lebih luas dengan menonton TV. Nyatanya masih ada orang-orang polos seperti Bu Sarinah. Itu hanya gambaran kecil salah satu sudut Indonesia. Tak terduga. Kadang persepsi kita terhadap masyarakat terlalu tinggi. Lihatlah Bu Sarinah. Meski tiap hari ke pasar bertemu keramaian, tak membuat beliau faham tentang gambaran Indonesia. Jangankan memikirkan negara, Bu Sarinah sudah sangat sibuk dengan aktifitasnya mencari uang untuk menyambung hidup. Dunia Bu Sarinah adalah Lampung. Lebih sempit lagi rumahnya dan pasar tempat ia berdagang. Entah siapa yang salah. Bu Sarinah yang gak lulus SD, atau ‘kambing hitam’ yang lain.
"Nggeh sami to bu. Kan judulnya masih Indonesia (Ya sama to, Bu, kan judulnya masih Indonesia)", jawab saya dengan santai.
"Hmm.. Opo gak mumet yo presiden iku, ngurusi wong sak mono akehe.. (Apa gak pusing ya presiden ngurusi orang segitu banyaknya?)”.
Saya hanya senyum dikulum.
"Nek teng Jawi nopo wonten ladang?" (Di Jawa apa ada ladang?)
"Datar nopo bukit-bukit?" (Datar apa bukit-bukit?)
Dan pertanyaan Bu Sarinah bertambah banyak. Wawancara kali ini berbalik. Giliran saya yang harus menjawab pertanyaan-pertanyaan Bu Sarinah.
Bu Sarinah hanya salah satu contoh masyarakat yang mungkin ditemui ketika sebuah program pemberdayaan masyarakat mulai dijalankan. Akan banyak ragam lain dari masyarakat yang bisa ditemui. Entah itu positif, atau hal yang menimbulkan keprihatinan. Yang pasti, setiap program pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan Masyarakat Mandiri diharapkan dapat mempertahankan modal sosial yang sudah baik dan mencoba mengajak masyarakat bangkit dari keprihatinan yang sedang mereka alami, baik sadar atau tidak.
Pada akhirnya, Bu Sarinah mengundurkan diri dari menjadi calon mitra program. Tidak semua ajakan akan berakhir bahagia. Anggukan tanda faham Bu Sarinah yang saya kira ternyata meleset. Bu Sarinah memang faham, tetapi tidak seperti yang saya harapkan. Beliau mengira saya mencari orang untuk menjadi pekerja di usaha yang akan saya buat di Desa Tambah Subur. Setidaknya hal ini membuat saya untuk tidak berhenti belajar, bagaimana berkomunikasi dengan bahasa masyarakat yang sedang saya dampingi. Karena akan selalu ada proses pembelajaran di setiap aktifitas pemberdayaan masyarakat.