Minggu 20-Mei-2012
Ahad 28 Jam Akhir 1433
Website ini bisa diakses versi mobile-nya di gadget Anda!
Menu Utama
Iklan





Hit Counter

 
Versi CetakVersi Cetak
Mimpi untuk Indonesia
Menjadi catatan dan kritik khusus dari para dosen pengajar di IHS, untuk di Indonesia banyak kegagalan diproses pengembangan ekonomi lokal dikarenakan kepentingan  non-ekonomi memiliki peran yang berlebih. Sulitnya menjaga independensi  program akan berdampak kepercayaan (trust) antar stakeholder sulit terbangun. Kondisi tersebut jelas berpengaruh besar, karena keberhasilan ekonomi lokal berhubungan langsung  dengan mekanisme pasar yang sulit di paksa ataupun diatur sekalipun oleh pemerintah.
 
Menarik sekali, melihat pertanian di negeri yang hampir separuh  wilayahnya di bawah permukaan laut ini. Lesson learn pertanian dilakukan di Westland. Pertanian hulu-hilir begitu terintegrasi. Sistem cluster berkembang alamiah dengan prinsip saling mendukung. Kelembagaan petani berperan profesional dan berkontribusi nyata. Persaingan berbasis kualitas menjadi jaminan kompetisi yang sehat.

Berbekal 149.000 hektar (3,6 % dari luas wilayah Belanda), sektor pertanian Belanda mampu berkontribusi  21 % dari total neraca perdagangan nasional dengan nilai ekspor  € 14.5 milyar di tahun 2009. Beragam produk hortikultura dan bunga mampu mendominasi pangsa pasar di Eropa bahkan dunia.

Berangkat dari hulu, ciri pertanian dengan teknik rumah kaca, manipulasi iklim dalam ruangan, teknologi robotik, komputerisasi, R & D dibagi, menjadi hal lazim. Ketika musim panas, mekanisme solar cell dirumah kaca berfungsi memanen energi panas yang berlimpah dan disimpan di tandon dan sungai-sungai bawah tanah hingga menaikkan suhu air 80-1000 C.  Ketika memasuki musim dingin bahkan salju dengan suhu -50C, pertanian tetap berjalan. Saatnya mesin-mesin blower memanen simpanan energi bawah tanah dan mensirkulasi udara untuk memanipulasi iklim dalam ruangan. Kebutuhan tanaman akan CO2 pun dikirim melalui pipa-pira ratusan mil dari pabrik-pabrik yang menghasilkan CO­2 sebagai limbah.

Melihat kecanggihan pengelolaan pertanian yang demikian maju dan canggih, salah satu anggota tim REDs sempat berujar, “Lamun kos kie, diurang mah mual ka udak….” Jika seperti ini, di negeri kita tidak bakal mampu mengikutinya.  

 Jelas, sesuatu yang hampir mustahil menginginkan pertanian postmodern ala Belanda secar ujug-ujug. Terlebih untuk jangka pendek dan diterapkan di pertanian rakyat, jelas itu sebuah mimpi yang mendekati ilusi. Seorang petani Belanda berkisah, 100 tahun yang lalu pertanian di Belanda masih menggunakan tenaga manusia dan petani berkutat dengan tanah becek. Tetapi ada yang bisa kita adopsi yakni pola pikir dan sistem kelembagaan yang realistis untuk diterapkan di Indonesia.

Petani di negeri Belanda menganggap pertanian bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup atau bertahan hidup semata. Pertanian adalah bisnis yang membutuhkan nilai-nilai entrepreneurship dan kelembagaan yang kuat. Meskipun lahan pertanian dimiliki oleh individu, akan tetapi untuk mencapai efesiensi dan memperkuat posisi tawar, banyak petani melakukan merger usaha dengan satu grup pengelolaan. Bergabungnya beberapa pertanian dalam sebuah grup (sejenis koperasi tapi aturannya mirip korporasi) memungkinkan mereka mengembangkan usaha seperti pabrik pengemasan produk pertanian, spesialisasi fungsi meliputi pembibitan dan marketing.

 Lahan pertanian di Belanda juga tidak menjadi objek warisan yang bisa dibagi-bagi hingga menyempit, akan tetapi lahan yang tetap utuh meskipun telah diwariskan ke beberapa generasi.
Logisnya, ketika suatu negeri memiliki anugrah alam yang kaya dan luas mestinya lebih makmur dari dibanding dengan negeri yang minim kekayaan alam, sempit  terlebih penuh cuaca ekstrim. Akan tetapi fakta  menunjukkan hal berbeda. Negeri Belanda jauh lebih makmur dan berhasil dibidang pertanian dibandingkan dengan Indonesia.

Sebuah kesimpulan kecil, dari realita pertanian di Belanda yang bisa dijadikan bahan pembelajaran di tanah air. Alam adalah anugrah Illahi yang sudah build in, sedangkan cara berpikir dan sistem kerjalah yang paling menentukan kemakmuran suatu negeri. Semoga proses pembelajaran yang telah menempuh perjalanan lebih dari 25.000 mil, mampu mengkristalkan tekad Tim REDs teguh dan konsisten untuk terus berkontribusi atas perkembangan ekonomi lokal. Semoga.

Adalah menjadi tanggung jawab bersama mengurus  perkembangan ekonomi lokal. Jika tidak petani kita akan tetap menjadi kuli, usahawan tetap menjadi buruh dan akhirnya semua menjadi serba terlambat….

Diposting oleh
Diposting pada hari Rabu, 04 Mei 2011 13:03:26


<<-- Kembali


Sinergi & CSR



HIGHLIGHT


Program Kelompok Pengusaha Makanan Sehat (KPMS) Kerjasama dengan Hypermart
Program Kelompok Pengusaha Makanan Sehat (KPMS) Kerjasama dengan Hypermart
PEMBERDAYAAN EKONOMI PEREMPUAN PERKOTAAN KERJASAMA DENGAN KESUMA TIARA
PEMBERDAYAAN EKONOMI PEREMPUAN PERKOTAAN KERJASAMA DENGAN KESUMA TIARA

Woro-Woro



 
Spirit



Sepenuh Hati dari Titik Awal
Sepenuh Hati dari Titik Awal
Manifesto Pemberdayaan: Inovasi Tiada Henti
Manifesto Pemberdayaan: Inovasi Tiada Henti
Mimpi untuk  Indonesia
Mimpi untuk Indonesia
With Sweet Potatoes, From Kuningan to Rotterdam
With Sweet Potatoes, From Kuningan to Rotterdam
Hopes and Dreams of ISMs
Hopes and Dreams of ISMs


Photo Gallery


Ismail A. Said, Presdir Dompet Dhuafa bersama jajaran Masyarakat Mandiri, LP POM MUI, dan Pemda Jaka


Video Gallery


Revitalisasi Posyandu dengan Usaha Ekonomi di Tangerang
Revitalisasi Posyandu dengan Usaha Ekonomi di Tangerang
Menjadikan Petani Kelapa Tuan Rumah di Negeri Sendiri
Kampung Tahu
Kampung Tahu (part2)
Batik Alami
Batik Alami 1
Kecil-kecil Bersertifikat Halal
Ikrar Mitra
Penguatan IRT Snack Ciamis
Pemberdayaan Perempuan Penjual Makanan di Surabaya
Pemberdayaan Perempuan Penjual Makanan di Surabaya (2)
Nabung Gula Buat Sekolah (1)
Nabung Gula Buat Sekolah (2)
Ketahanan Pangan (Singkong) di Lampung
Ketahanan Pangan (Singkong) di Lampung (2)
Warung Anak Sehat

 

 
Designed & Developed By Solusi-IT.Com