Minggu 20-Mei-2012
Ahad 28 Jam Akhir 1433
Website ini bisa diakses versi mobile-nya di gadget Anda!
Menu Utama
Iklan





Hit Counter

 
Versi CetakVersi Cetak

Rabu, 27/12/2006 16:05 WIB


Jajanan Sekolah Ganggu Daya Serap & Picu Kenakalan Siswa

Rafiqa Qurrata A - detikNews

Jakarta - Jajanan sekolah yang minim gizi terus menjadi sorotan. Zat pewarna dan pengawet yang digunakan, disinyalir menurunkan daya serap siswa. Bahkan bisa memicu kenakalan. Kok bisa?

"Memang belum ada angka yang pasti, tapi kita kan bisa merunut dari rangkaian sebab akibat," kata Staf Ahli Dirjen Industri Kecil Pangan Departemen Perindustrian Sere Saghranie Daulay. Sere menyampaikan hal itu dalam workshop Pemberdayaan Konsumen di Hotel Cemara, Jalan Cemara, Jakarta, Rabu (27/12/2006).

Pada mulanya makanan yang dibuat dengan pemanis buatan, zat pewarna dan pengawet lainnya, serta dijajakan di sekolah-sekolah, memang hanya mengganggu mekanisme dalam tubuh. Tetapi pada akhirnya pengaruhnya sampai pada daya tangkap, daya nalar dan pemikiran anak. "Kalau anak sekarang, saat guru menjelaskan, mereka ribut sendiri. Karena memang tidak punya pengetahuan awal, jadi tidak tertarik.

Pelajaran yang kemarin-kemarin juga tidak mengerti, akhirnya bete, nggak mau di kelas dan nongkrong sana-sini yang ujung-ujungnya kenakalan remaja," beber Sere. Sere yakin makanan yang dikonsumsi siswa di sekolah rentan dalam proses tersebut. "Jajan kan sering tidak terkontrol, bahan-bahannya apa, bikinnya gimana, ketika belinya juga nggak ada yang mengawasi. Sementara pedagang kan cuma mau untungnya besar saja," cetus dia. Proses inilah yang menjadi salah satu pemicu menurunnya kualitas anak dan remaja saat ini. Indikasinya, kata dia, sudah ada.

"Kalau dulu angka delapan itu mudah saja diperoleh dan anak-anak gampang lulus. Tapi tidak kalau sekarang ini, ratusan anak tidak lulus. Ada yang hampir satu sekolah tidak lulus," katanya. Padahal ujian yang digelar, imbuh Sere, sebetulnya salah satu bentuk review untuk mengetahui seberapa besar daya serap anak. "Saya khawatir 10 tahun lagi bangsa kita ini hilang. Pemimpin nanti itu kan generasi muda sekarang, kalau daya serap nggak nyambung, mau jadi gimana!" tandasnya.

Untuk mengatasi hal itu, solusi satu-satunya adalah menyeriusi masalah ini, mulai dari pendidikan, informasi yang jelas, sampai soal ekonomi. "Kita teriak-teriak juga kalau masyarakat nggak punya daya beli makanan bagus, ya nggak bisa terpenuhi," pungkasnya. (umi/)

Diposting oleh Hery D. Kurniawan
Diposting pada hari Rabu, 20 Januari 2010 21:23:05


<<-- Kembali


Sinergi & CSR



HIGHLIGHT


Program Kelompok Pengusaha Makanan Sehat (KPMS) Kerjasama dengan Hypermart
Program Kelompok Pengusaha Makanan Sehat (KPMS) Kerjasama dengan Hypermart
PEMBERDAYAAN EKONOMI PEREMPUAN PERKOTAAN KERJASAMA DENGAN KESUMA TIARA
PEMBERDAYAAN EKONOMI PEREMPUAN PERKOTAAN KERJASAMA DENGAN KESUMA TIARA

Woro-Woro



 
Spirit



Sepenuh Hati dari Titik Awal
Sepenuh Hati dari Titik Awal
Manifesto Pemberdayaan: Inovasi Tiada Henti
Manifesto Pemberdayaan: Inovasi Tiada Henti
Mimpi untuk  Indonesia
Mimpi untuk Indonesia
With Sweet Potatoes, From Kuningan to Rotterdam
With Sweet Potatoes, From Kuningan to Rotterdam
Hopes and Dreams of ISMs
Hopes and Dreams of ISMs


Photo Gallery


Ismail A. Said, Presdir Dompet Dhuafa bersama jajaran Masyarakat Mandiri, LP POM MUI, dan Pemda Jaka


Video Gallery


Revitalisasi Posyandu dengan Usaha Ekonomi di Tangerang
Revitalisasi Posyandu dengan Usaha Ekonomi di Tangerang
Menjadikan Petani Kelapa Tuan Rumah di Negeri Sendiri
Kampung Tahu
Kampung Tahu (part2)
Batik Alami
Batik Alami 1
Kecil-kecil Bersertifikat Halal
Ikrar Mitra
Penguatan IRT Snack Ciamis
Pemberdayaan Perempuan Penjual Makanan di Surabaya
Pemberdayaan Perempuan Penjual Makanan di Surabaya (2)
Nabung Gula Buat Sekolah (1)
Nabung Gula Buat Sekolah (2)
Ketahanan Pangan (Singkong) di Lampung
Ketahanan Pangan (Singkong) di Lampung (2)
Warung Anak Sehat

 

 
Designed & Developed By Solusi-IT.Com