Rabu, 27/12/2006 16:05 WIB
Jajanan Sekolah Ganggu Daya Serap & Picu Kenakalan Siswa
Rafiqa Qurrata A - detikNews
Jakarta - Jajanan sekolah yang minim gizi terus menjadi sorotan. Zat pewarna dan pengawet yang digunakan, disinyalir menurunkan daya serap siswa. Bahkan bisa memicu kenakalan. Kok bisa?
"Memang belum ada angka yang pasti, tapi kita kan bisa merunut dari rangkaian sebab akibat," kata Staf Ahli Dirjen Industri Kecil Pangan Departemen Perindustrian Sere Saghranie Daulay. Sere menyampaikan hal itu dalam workshop Pemberdayaan Konsumen di Hotel Cemara, Jalan Cemara, Jakarta, Rabu (27/12/2006).
Pada mulanya makanan yang dibuat dengan pemanis buatan, zat pewarna dan pengawet lainnya, serta dijajakan di sekolah-sekolah, memang hanya mengganggu mekanisme dalam tubuh. Tetapi pada akhirnya pengaruhnya sampai pada daya tangkap, daya nalar dan pemikiran anak. "Kalau anak sekarang, saat guru menjelaskan, mereka ribut sendiri. Karena memang tidak punya pengetahuan awal, jadi tidak tertarik.
Pelajaran yang kemarin-kemarin juga tidak mengerti, akhirnya bete, nggak mau di kelas dan nongkrong sana-sini yang ujung-ujungnya kenakalan remaja," beber Sere. Sere yakin makanan yang dikonsumsi siswa di sekolah rentan dalam proses tersebut. "Jajan kan sering tidak terkontrol, bahan-bahannya apa, bikinnya gimana, ketika belinya juga nggak ada yang mengawasi. Sementara pedagang kan cuma mau untungnya besar saja," cetus dia. Proses inilah yang menjadi salah satu pemicu menurunnya kualitas anak dan remaja saat ini. Indikasinya, kata dia, sudah ada.
"Kalau dulu angka delapan itu mudah saja diperoleh dan anak-anak gampang lulus. Tapi tidak kalau sekarang ini, ratusan anak tidak lulus. Ada yang hampir satu sekolah tidak lulus," katanya. Padahal ujian yang digelar, imbuh Sere, sebetulnya salah satu bentuk review untuk mengetahui seberapa besar daya serap anak. "Saya khawatir 10 tahun lagi bangsa kita ini hilang. Pemimpin nanti itu kan generasi muda sekarang, kalau daya serap nggak nyambung, mau jadi gimana!" tandasnya.
Untuk mengatasi hal itu, solusi satu-satunya adalah menyeriusi masalah ini, mulai dari pendidikan, informasi yang jelas, sampai soal ekonomi. "Kita teriak-teriak juga kalau masyarakat nggak punya daya beli makanan bagus, ya nggak bisa terpenuhi," pungkasnya. (umi/)