Minggu 20-Mei-2012
Ahad 28 Jam Akhir 1433
Website ini bisa diakses versi mobile-nya di gadget Anda!
Menu Utama
Iklan





Hit Counter

 
Versi CetakVersi Cetak
Masyarakat Mandiri, Dampingi Warga Lumpuhkan Rentenir

 

Setelah menikmati perjalanan yang cukup mengasyikkan dari Jakarta menyusuri jalur Jonggol-Cianjur, SABILI harus berpegangan erat selepas Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Apalagi, setelah mobil mulai menapaki jalur berbatu, mendaki pegunungan, diapit curamnya jurang dan ngarai, nafas pun terasa tertahan di dada.

Lebih dari 4 km, mobil yang ditumpangi SABILI menderu keras, mengerahkan sebagian besar tenaganya untuk menapaki lembah dan punggung Pegunungan Cibeureum. Target yang dituju adalah Desa Buanajaya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor. Tapi, desa ini posisinya ada di puncak Gunung Cibeureum.

Di desa terpencil inilah, Masyarakat Mandiri (MM), sebuah lembaga otonom dalam koordinasi Dompet Dhuafa Republika, melakukan pembinaan dan pendampingan masyarakat. MM masuk ke desa ini sejak April 2000. Pada saat itu, penduduk desa yang berprofesi sebagai petani, berkebun dan pedagang kecil umumnya terjerat praktik "bank keliling" alias rentenir dengan bunga tinggi.
Lintah darat ini, menjerat dengan menerapkan bunga minimal 20%. Misalnya, seorang pedagang kecil meminjam Rp 100 ribu. "Bank Keliling" yang juga disebut "bank harian" inikarena sistem cicilannya tiap had-hanya menyerahkan Rp 80 ribu pada nasabah. Kekurangan 20% dianggap sebagai bunga yang diambil pihak "bank" saat transaksi awal. Selanjutnya, nasabah harus mencicil sesuai perjanjian ditambah bunga 20% hingga lunas.

Dalam kondisi seperti di atas dan pendidikan warga yang rendah-umumnya tamat SD-MM hadir mendampingi penduduk Buana Jaya. Pelan tapi pasti, MM mulai mengumpulkan warga dalam bentuk Kelompok Mandiri (KM) sebanyak 5 orang.
Tapi, MM dan relawan pendamping yang menetap di desa ini tak kenal kata menyerah.

Pada tahun-tahun selanjutnya, KM-KM mulai terbentuk. Selanjutnya, KM-KM ini bergambung menjadi Induk Mandiri (IM). Dalam jangka 3 tahun, MM berhasil membentuk empat Induk di desa ini dan sekitamya. Yakni, Induk Cibeureum, Wangun, Gobang dan Cigulingan.

Untuk mengoordinir empat induk ini dibentuk lkhtiar Swadaya Mitra (ISM). Saat ini, ISM telah membentuk Koperasi Serba Usaha yang berada di Dusun Cibeureum, sekaligus menjadi kantor pusat ISM. Untuk tahap awal, Koperasi ini bergerak dalam bidang simpan pinjam dan bantuan permodalan untuk anggotanya.
Keberhasilan MM ini, bermula dad usaha penyadaran yang dilakukan secara terus menerus pada masyarakat. Warga yang terbiasa mempraktikkan sistem riba, diberi penyadaran, bimbingan dan pengetahuan tentang sistem pengelolaan keuangan secara syariah dalam skala mikro. Dalam tahap awal, MM mengucurkan pinjaman berbasis mudharabah dan bai bitsaman ajil sebesar Rp 100 ribu untuk modal usaha.
Jika usahanya berkembang dan proses pengembaliannya lancar, anggota berhak mengajukan pinjaman lebih besar lagi. Mulai dad Rp 250 ribu, Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta. Sistem yang diterapkan, semuanya berbasis syariah dan bertujuan untuk mengentaskan warga dari kubangan kemiskinan, hingga keluar dad kategori kaum dhuafa.

Dalam bahasa ekonomi, MM berjuang mengenalkan dan mempraktikkan mikrofinansial syariah pada masyarakat. Cucu Wiguna yang sudah dua tahun mendampingi warga menuturkan, "Awalnya terasa sangat berat. Apalagi, pendidikan mereka sangat rendah. Tapi, melalui pandampingan intensif dan pendekatan Islami, ikut membina kegiatan keagamaan dan sarana ibadah, alhamdulilah saat ini sudah banyak yang berubah."

Secara ekonomi, binaan MM mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Yang awalnya tak memiliki usaha, sekarang mulai mengembangkan usaha tertentu. Yang awalnya berusaha kecil-kecilan, sekarang berkembang cukup pesat. "Secara mental, persepsi warga terhadap bunga bank mulai berubah. Mereka mulai berani mengatakan bunga bank itu haram karena sama dengan riba," ujar Cucu.

Yuyun (32 thn) yang dipercaya menjadi Ketua Koperasi Serba Usaha ISM Buana Jaya, misalnya. Sebelum bergabung dengan MM, ia hanya ibu rumah tangga biasa dengan tiga anak. Untuk membantu suami memenuhi kebutuhan sehari-had, ia bekerja menjadi kuli di kebun tetangga.

Akhirnya, ia pun berpikir untuk merintis usaha. la memberanikan did meminjam uang pada "bank harian" Rp 100 ribu. Tapi, yang ia terima hanya Rp 80 ribu dan harus mengembalikan Rp 125 ribu. Akhimya, ia justru terjerat utang karena usaha warung kebutuhan pokok yang ditekuninya tak berkembang.

Setelah bergabung dengan MM, semuanya berubah. Selain memperoleh pinjaman dad dana bergulir sebanyak Rp 500 ribu, Yuyun juga dibina dan didampingi dalam mengelola usahanya. la mulai belajar pemasaran, pembukuan, menghitung cash flow, managemen sederhana dan kiat-kiat bisnis lainnya.

Kini, selain membuka warung kebutuhan pokok warga desa, Yuyun juga mengembangkan bisnis sebagai pengumpul pisang, cengkeh dan gula aren. Khusus untuk warungnya
saja, ia bisa meraup omset penjualan sekitar Rp 3 juta per minggu. Dalam seminggu ia biasa belanja untuk memenuhi kebutuhan warga sekitar Rp 2,5 juta.

Demikian juga yang dialami oleh Acen (27 thn). Ibu berputra satu ini, semula hanya seorang buruh tani. Setelah bergabung dengan MM, ia memperoleh pinjaman mulai dad Rp 300 ribu dan terakhir Rp 1 juta. Semua pinjaman ini untuk mengembangkan usaha kelontong dan sembako. la berjualan secara berkeliling ke beberapa desa di sekitar Buana Jaya.

Saat ini, tiap kali keliling, ia bisa mengantongi omset sebanyak Rp 250 ribu. Dalam sepekan, ia bisa 3 sampai 4 kali berkeliling. Bahkan, dalam setahun terakhir, Acen yang hanya tamat SD ini, juga mengembangkan warung khusus sembako di samping rumahnya.

Warga seperti Yuyun dan Acen, yang merasa tercerahkan oleh program MM, cukup banyak di desa ini. Dad catatan MM, saat ini ada sekitar 50 warga yang masuk dalam program pendampingan. Sebagian besar dad mereka, telah merasakan "manis"nya berekonomi secara syariah. Meski kecil dan skala yang terbatas, MM berhasil mengentaskan warga Buana Jaya dari jerat kemiskinan.

Di puncak Gunung Cibeureum, konsep ekonomi syariah telah dipraktikkan. Kapan giliran lembaga keuangan yang mengaku syariah melakukan langkah serupa?
 

Diposting oleh
Diposting pada hari Kamis, 25 Juni 2009 16:15:42


<<-- Kembali


Sinergi & CSR



HIGHLIGHT


Program Kelompok Pengusaha Makanan Sehat (KPMS) Kerjasama dengan Hypermart
Program Kelompok Pengusaha Makanan Sehat (KPMS) Kerjasama dengan Hypermart
PEMBERDAYAAN EKONOMI PEREMPUAN PERKOTAAN KERJASAMA DENGAN KESUMA TIARA
PEMBERDAYAAN EKONOMI PEREMPUAN PERKOTAAN KERJASAMA DENGAN KESUMA TIARA

Woro-Woro



 
Spirit



Sepenuh Hati dari Titik Awal
Sepenuh Hati dari Titik Awal
Manifesto Pemberdayaan: Inovasi Tiada Henti
Manifesto Pemberdayaan: Inovasi Tiada Henti
Mimpi untuk  Indonesia
Mimpi untuk Indonesia
With Sweet Potatoes, From Kuningan to Rotterdam
With Sweet Potatoes, From Kuningan to Rotterdam
Hopes and Dreams of ISMs
Hopes and Dreams of ISMs


Photo Gallery


Ismail A. Said, Presdir Dompet Dhuafa bersama jajaran Masyarakat Mandiri, LP POM MUI, dan Pemda Jaka


Video Gallery


Revitalisasi Posyandu dengan Usaha Ekonomi di Tangerang
Revitalisasi Posyandu dengan Usaha Ekonomi di Tangerang
Menjadikan Petani Kelapa Tuan Rumah di Negeri Sendiri
Kampung Tahu
Kampung Tahu (part2)
Batik Alami
Batik Alami 1
Kecil-kecil Bersertifikat Halal
Ikrar Mitra
Penguatan IRT Snack Ciamis
Pemberdayaan Perempuan Penjual Makanan di Surabaya
Pemberdayaan Perempuan Penjual Makanan di Surabaya (2)
Nabung Gula Buat Sekolah (1)
Nabung Gula Buat Sekolah (2)
Ketahanan Pangan (Singkong) di Lampung
Ketahanan Pangan (Singkong) di Lampung (2)
Warung Anak Sehat

 

 
Designed & Developed By Solusi-IT.Com