Jakarta, 19 Juli 2006
Kepada Yth.
MEDIA CETAK/TV/RADIO
Di – Jakarta
Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa Republika, Rabu (19/7) – Kasus formalin yang meledak kembali pada akhir 2005, memiliki dampak yang tak kecil hingga sekarang. Siapa korbannya, tak lain adalah para pedagang kecil makanan jajanan. Mereka adalah penjual bakso, mie ayam, siomay, jajanan sekolah, otak-otak dan lain-lain. Penggunaan bahan pengawet berbahaya seperti formalin dan pewarna berbahaya, secara gampang ditudingkan kepada para pedagang kecil itu.
Penurunan omzet penjualan para pedagang kecil akibat kasus formalin sampai 70 %. Tak sedikit dari mereka yang pulang kampung atau menggadaikan gerobaknya. Penurunan ini diperparah dengan kenaikan BBM yang melambungkan harga-harga. Hal ini diperparah lagi dengan sebuah pemberitaan penggunaan bakso tikus oleh media massa yang makin menyudutkan para pedagang makanan, khususnya bakso.
Kini, mereka telah bangkit. Para pedagang kecil berusaha menepis tudingan dengan membebaskan produknya dari segala jenis bahan tambahan pangan (BTP) berbahaya. Termasuk di antaranya zat pengawet dan zat pewarna. Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa Republika mendampingi mereka, agar bisa bangkit mandiri. Masyarakat Mandiri adalah lembaga nirlaba yang bergerak dalam pemberdayaan komunitas kurang mampu, dengan mendayagunakan dana zakat infaq dan shodaqoah. Kini, sekitar 500 orang pedagang makanan di Jabodetabek, telah tergabung sebagai mitra dampingan (binaan).
”Beberapa langkah sudah ditempuh oleh Masyarakat Mandiri (MM) dalam memberdayakan komunitas,” tutur Nana Mintarti, Direktur Masyarakat Mandiri. Pertama, membentuk kelompok dampingan yang di dalamnya terkandung proses membangun konsensus/komitmen bersama untuk menyelesaikan persoalan komunitas dan penggalian gagasan. Juga membentuk jaringan kerja antar kelompok kegiatan usaha produktif, berbagi pengetahuan, pengalaman dan informasi, menyatukan kekuatan bersama sehingga pada saatnya punya bargaining position yang lebih kuat. Kedua, peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Ketiga, mengembangkan usaha produktif. Keempat, membangun kelembagaan komunitas, yang bisa berperan mengatasi masalah apapun secara berjamaah. Dengan pihak lain mereka bisa mengambil posisi yang setara sehingga tidak gampang dieksploitasi dan terus-menerus menjadi korban.
Mengundang rekan-rekan Media Cetak / TV / Radio untuk hadir pada Launching Mutu Pelayanan Program Pemberdayaan Pedagang Mikro Jajanan Se-JABODETABEK.
Hari/tgl. : Rabu, 19 Juli 2006-07-19
Tempat : Mushola Attaqwa, Jl. Pancoran Buntu II Pancoran, Jakarta Selatan
Waktu : Pukul 15.00 – 16.30 WIB
Agenda : Sambutan dari Dompet Dhuafa, pemasangan secara simbolik kaos
kepada 50 pedagang dan pelepasan pedagang berseragam, dengan
mengibarkan bendera hias.