Minggu 20-Mei-2012
Ahad 28 Jam Akhir 1433
Website ini bisa diakses versi mobile-nya di gadget Anda!
Menu Utama
Iklan





Hit Counter

 
Versi CetakVersi Cetak
Kasus "F" Tak Cukup Adu Telunjuk

REPUBLIKA – FILANTROPI dan www.dompetdhuafa.or.id
24 Jan 2006 15:36:25 / 20 Dzulhijah 1426 H


Saat kasus Formalin mencuat, pedagang kecil terbelalak. Ia hanya korban dari ketidakpahaman. Menjadi tidak adil jika nasibnya dibiarkan.

Ada kegelisahan membuncah yang mengusik batin Nana Mintarti, Direktur Masyarakat Mandiri (MM) Dompet Dhuafa Republika. Kisah horor dampak formalin yang menyeruak bebas di media massa memukul telak nasib masyarakat mitra MM di Tangerang dan Bogor. Sebagian terseok bertahan, sebagian terjerembab tak lagi bangkit. "Kita tak bisa diam saja, lima tahun kita dampingi mereka untuk bangkit mandiri sekarang terpuruk oleh perbuatan yang tak mereka lakukan", tandas Nana prihatin.

Formalin mendadak tenar bak selebritis. Dampak jahat yang ditimbulkannya menghiasi setiap isi berita. Bertahun-tahun makhluk "F" ini disimpan rapi. Diumpankan sebagai racun yang dapat menangguk untung. Tak jelas siapa biang keladi pemberi solusi untuk memakai pengawet mayat ini. Dari namanya, Formalin jelas tidak lahir dari kreatifitas masyarakat pinggiran. Potret di lapangan, nelayan miskin sekelas Jamian dari Desa Muara, Tanjung Pasir, Tangerang tak pernah paham makhluk "F" itu. "Pak Malin (Formalin) baru dengar pak, kita biasanya habis nangkap ikan ya langsung jual ke tengkulak, gak dicampur apa-apa".

Publikasi terhadap dampak Formalin tak dapat ditutup-tutupi. Pilihan pahit ini musti disibak sedari dini. Meski terlambat, ada harapan agar masa depan generasi berikutnya sehat dan selamat. Penyidakan besar-besaran di pasar menjadi terapi ampuh agar para pedagang tidak nakal. Tetapi pedagang kecil yang menjadi penggerak roda ekonomi rakyat menjadi tumbal dari kebijakan publikasi ini. Penjual kelas teri seakan jadi tersangka dan disalahkan. Mereka menjerit mencari tempat mengadu di jalan buntu.

Tak kunjung ada solusi pengganti pengawet jahat ini. Pihak berwenang yang semula meradang mela-rang tak pula memberi jalan keluar. Idealnya, kata masyarakat, saat dampak buruk Formalin diumum-kan didampingi solusi pengganti. Sekadar mengumumkan mudah. Pun dari beberapa tahun lalu kasak-kusuk "F" telah merebak di sebagian masyarakat. Masih cuek, acuh, tak peduli. Bara menjadi berkobar saat sebuah stasiun TV beruntun menayangkan investigasi makanan yang mengandung Formalin, zat pewarna tekstil dalam jajanan, dan daging tikus untuk bakso.

Konsumen seakan diteror makanan. Tahu, ikan, mie, bakso, dan jajanan pedagang kecil dijauhi. Nyaris, tak ada makanan bergaransi sehat dan aman. Padahal di tingkat pedagang kecil seperti mitra MM, jalur jujur menjadi alur. Proses pendampingan masyarakat membim-bing mitra untuk memproduksi produk-produk sehat. Tak ada zat-zat kimia secuilpun dipakai. Namun dampak publikasi yang demikian dahsyat membuat mereka ikut terhempas.

MM Siapkan Pendampingan
Nasi telah menjadi bubur. Segudang pertanyaan tumpah ruah. Siapa bertanggung jawab dan bertugas menumbuhkan kembali citra pedagang kecil agar kembali berdaya? Makanan yang sejatinya sehat tak lagi dicurigai dan masyarakat kembali aman menikmati berjuta selera. Alih-alih menenangkan masyarakat, yang mudah disiapkan adalah jeruji besi bagi pengusaha yang bandel tetap menebar racun. Lantas bagaimana dengan pedagang gurem yang butuh bernafas dalam kancah perekonomian yang tak adil pada ekonomi kerdil?

Di sudut ruang gedung Bumi Pengembangan Insani Parung Bogor, terlihat aktivitas berbeda dari biasanya. Awak MM tengah fokus menyiapkan strategi penyelamatan pedagang kecil. Hampir sebulan program pendampingan digagas. Digodok agar langkah cepat segera direalisasikan untuk tindakan nyata. Sebagaimana ciri khas MM dalam program pemberdayaan, pendampingan masyarakat adalah kunci utamanya. Dengan pendampingan diharapkan terwujud penguatan disiplin, nilai-nilai kemandirian, dan tata etika dalam berusaha. Dengan demikian roda usaha dapat menghasilkan produk yang halal, thayyib dan barokah. Bersaingnya pun sehat dan tidak rentan terhadap guncangan ekonomi global.

Dari pemetaan yang dilakukan, MM menetapkan komunitas urban sebagai sasaran. Dengan menyasar para pedagang kecil dan industri rumah tangga (IRT) skala mikro di lingkar wilayah JABODETABEK, meliputi: DKI Jakarta (Jakut, Jaksel, Jakbar, Jaktim, Jakpus), Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Langkah teknis yang mulai dilakukan: pertama, membentuk kelompok dampingan dan membentuk jaringan kerja antar kelompok kegiatan usaha produktif, berbagi pengetahuan, pengalaman dan informasi, menyatukan kekuatan bersama sehingga pada saatnya punya bargaining position yang lebih kuat.

Kedua, peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Ketiga, mengembangkan usaha produktif. Keempat, membangun kelembagaan komunitas, yang bisa berperan mengatasi masalah apapun secara berjamaah. Dengan pihak lain mereka bisa me-ngambil posisi yang setara sehingga tidak gampang dieksploitasi dan terus-menerus menjadi korban.

Aktivitas ini akan difasilitasi oleh Pendamping Mandiri yang melebur tinggal bersama masyarakat dam-pingan. Sebagai tahap awal program ini akan melibatkan 500 orang mitra yang berprofesi sebagai pedagang dan produsen. Di peng-hujung, MM akan melakukan pembiayaan melalui dana bergulir (revolving fund) pada usaha-usaha pengolahan makanan jajanan skala mikro dan memenuhi syarat halal dan thoyib. Hal ini akan dipertegas dengan memfasilitasi perkumpulan untuk mampu memperoleh sertifikasi dan jaminan keamanan pa-ngan dari BPOM-MUI dan Dinas Kesehatan.

Langkah pemberdayaan semacam ini sebenarnya bukan hal baru bagi MM. Pendampingan masyarakat telah dimulai sejak lima tahun lalu. Inilah kerja pemberdayaan yang di dalamnya MM berkhidmat. Butuh waktu panjang untuk merengkuhnya. Hasil tak dapat diukur dari dhuafa tiba-tiba menjadi muzaki. Perubahan tata nilai kemandirian itulah sasaran utamanya. Peruba-han sosial dan peningkatan kualitas SDM masyarakat.

Dengan demikian, pedagang kecil tetap bertahan oleh terpaan kasus Formalin. Dapat membela diri dalam tekanan raksasa ekonomi yang menjamah pelosok. Saatnya pedagang kecil diberi lahan membuktikan tata niaganya yang jujur dan sehat. Terhindar dari kerakusan pengusaha kelas kakap yang bermain culas menabur badai Formalin, menebar imbas. Saatnya menekuk telunjuk tak saling me-nunjuk. Beraksi lebih baik dari sekadar diplomasi.

Diposting oleh
Diposting pada hari Kamis, 25 Juni 2009 16:04:56


<<-- Kembali


Sinergi & CSR



HIGHLIGHT


Program Kelompok Pengusaha Makanan Sehat (KPMS) Kerjasama dengan Hypermart
Program Kelompok Pengusaha Makanan Sehat (KPMS) Kerjasama dengan Hypermart
PEMBERDAYAAN EKONOMI PEREMPUAN PERKOTAAN KERJASAMA DENGAN KESUMA TIARA
PEMBERDAYAAN EKONOMI PEREMPUAN PERKOTAAN KERJASAMA DENGAN KESUMA TIARA

Woro-Woro



 
Spirit



Sepenuh Hati dari Titik Awal
Sepenuh Hati dari Titik Awal
Manifesto Pemberdayaan: Inovasi Tiada Henti
Manifesto Pemberdayaan: Inovasi Tiada Henti
Mimpi untuk  Indonesia
Mimpi untuk Indonesia
With Sweet Potatoes, From Kuningan to Rotterdam
With Sweet Potatoes, From Kuningan to Rotterdam
Hopes and Dreams of ISMs
Hopes and Dreams of ISMs


Photo Gallery


Ismail A. Said, Presdir Dompet Dhuafa bersama jajaran Masyarakat Mandiri, LP POM MUI, dan Pemda Jaka


Video Gallery


Revitalisasi Posyandu dengan Usaha Ekonomi di Tangerang
Revitalisasi Posyandu dengan Usaha Ekonomi di Tangerang
Menjadikan Petani Kelapa Tuan Rumah di Negeri Sendiri
Kampung Tahu
Kampung Tahu (part2)
Batik Alami
Batik Alami 1
Kecil-kecil Bersertifikat Halal
Ikrar Mitra
Penguatan IRT Snack Ciamis
Pemberdayaan Perempuan Penjual Makanan di Surabaya
Pemberdayaan Perempuan Penjual Makanan di Surabaya (2)
Nabung Gula Buat Sekolah (1)
Nabung Gula Buat Sekolah (2)
Ketahanan Pangan (Singkong) di Lampung
Ketahanan Pangan (Singkong) di Lampung (2)
Warung Anak Sehat

 

 
Designed & Developed By Solusi-IT.Com