Minggu 20-Mei-2012
Ahad 28 Jam Akhir 1433
Website ini bisa diakses versi mobile-nya di gadget Anda!
Menu Utama
Iklan





Hit Counter

 
Versi CetakVersi Cetak
PENDAMPINGAN KOMUNITAS DESA BUANAJAYA

Masyarakat Mandiri (MM) melakukan pemberdayaan komunitas pedesaan (rural) di Desa Buanajaya, Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Bogor. Tulisan ini menjelaskan gambaran umum tentang pemberdayaan dari tahun 2000. Dua tulisan akan menyusul, dengan mengangkat tema “Pelajaran Berharga dari Pemberdayaan di Desa Buanajaya”, dan "Jatuh Bangun Penumbuhan Lembaga Lokal di Buanajaya”.

Buanajaya letaknya di daerah perbatasan Kabupaten Bogor dan Cianjur. Pada awal diperkenalkannya program MM, tahun 2000 desa tersebut masuk Kecamatan Cariu. Namun setelah terjadi pemekaran wilayah, kini Desa Buanajaya masuk wilayah Kecamatan Tanjung Sari.  Secara topografis, sebagian besar wilayah desa tersebut terdiri dari perbukitan (96,02%) dan dataran (3,98%).

Mata pencaharian penduduk Desa Buanajaya, menurut data tahun 2000, terdiri dari petani ladang (40,76%, petani sawah (19,66%) dan buruh tani (8,58%), sisanya 31% bekerja di sektor lain. Kondisi jalan menuju desa berupa batu-batuan dan mendaki. Alat transportasi umum yang digunakan biasanya ojek.

Produk holtikultural yang menjadi primadona di desa ini adalah pisang. Pada tahun 2000, rata-rata dalam seminggu, produksi pisang bisa sampai 4 ton dalam satu dusun. Tanaman  hortikultura lain yang menjadi sumber pendapatan warga, di antaranya rambutan, kweni, durian, cengkeh dan kopi. Karena Desa  Buanajaya juga dikelilingi oleh hutan, maka di sekitar hutan tersebut banyak ditemukan tanaman tahunan seperti sengon, akasia dan karet.


Masa Sosialisasi

MM meneguhkan Buanajaya sebagai desa dampingan diawali dengan proses sosialisasi. Sebuah tahapan yang dilakukan dalam rangka memperkenalkan diri dan program kepada masyarakat dengan maksud agar Pendamping Mandiri (PM) dan Program MM dapat diterima dengan baik. Bentuk sosialisasi yang dilakukan di Desa Buanajaya menghadiri beberapa pertemuan dan mengunjungi rumah calon mitra secara door to door. Pertemuan yang dihadiri oleh PM adalah pertemuan mingguan aparat desa, pengajian dan arisan.

Sosialisasi berikutnya adalah mendatangi kumpulan-kumpulan yang ada seperti membuat kue dapros, mencuci di kali, nonton TV di rumah pak lurah bahkan ikut nonton sepak bola yang tentunya menjadi sponsor pemain Desa Buanajaya. Cara yang dilakukan oleh PM ini dimaksudkan supaya PM mudah diterima oleh warga dan supaya warga pun menyadari bahwa PM ingin menjadi bagian dari masyarakat Desa Buanajaya. Selain itu PM mengunjungi warga yang memiliki usaha industri rumah tangga (IRT), PM menanyakan keadaan usahanya, kendalanya dan kebutuhan mereka selama ini. PM juga menanyakan kepada warga tentang kebiasaan masyarakat setempat, adat istiadatnya, pantangan dan hewan yang berbahaya.

Mitra dan Kelompok Mandiri

Program Masyarakat Mandiri (MM) mulai diperkenalkan di desa Buanajaya pada bulan  Juli 2000. Sebelum terpilih menjadi salah satu desa dampingan MM, telah dilakukan survey dan pemetaan sumberdaya alam, sumber daya manusia dan kondisi sosial ekonomi warganya.

Kelompok Mandiri (KM) yang pertama dibentuk berada di Dusun Cimapag yang terdiri dari 9 mitra. Pada bulan Maret 2000, berkembang menjadi 16 KM dengan jumlah mitra 76 orang. Kelompok tersebut tersebar di Dusun Cimapag 4 KM,  Dusun Gobang 4 KM, Dusun Wangun 2 KM, dan Dusun Cibeureum 6 KM. KM-KM itu tergabung dalam Induk Cimapag, Wangun, Gobang dan Cibeureum.
Inti program MM dalam proses pendampingan di antaranya adalah peningkatan ekonomi mitra dengan jalan pembiayaan atas usaha para mitra. Metode awal dalam pembiayaan dengan pembiayaan kebajikan atau qardhul hasan untuk memulai atau mengembangkan usaha mereka. Pada perkembangannya, pembiayaan ini diterapkan model BBA (albai ’u bitsaman ajil) atau murabahah atau cicilan jual beli, yang diperkenalkan pada tahun ke-4. Model  terakhir yang juga diterapkan dalam pembiayaan adalah bagi hasil.

Usaha mitra yang dibiayai cukup beragam. Sampai tahun ke-4, terdapat 13 jenis usaha yang diberikan permodalan. Di antaranya: usaha warungan, tani hortikultural, kelontongan, pedagang pisang, kayu,  gula aren, pupuk dan beras serta servis motor Sebagian mitra lalu merintis usaha alternatif yang berdampak pada tambahan penghasilan. 10 orang di antaranya dinyatakan berhasil keluar dari kondisi mustahik.  Mustahik, yang berhak menerima zakat.

Pendampingan

Selama proses pendampingan, dilakukan berbagai upaya peningkatan kapasitas (pengetahuan dan ketrampilan) yang merupakan pekerjaan inti dari tahapan penting ini. Upaya tersebut dilakukan melalui forum mitra, rapat Induk, pelatihan khusus dan silaturahmi ke rumah mitra. Para mitra mendapatkan tambahan pengetahuan dalam setiap rapat Induk setiap minggu. Pengetahuan tersebut adalah soal ekonomi, sosial, kesehatan, agama dan keorganisasian. Materi diberikan oleh Pendamping Mandiri (PM), Ketua Induk ataupun mengundang pembicara dari luar.

Peningkatan kapasitas yang pernah dilakukan berupa: kursus baca tulis Latin, latihan pembukuan keuangan sederhana, ceramah soal muamalah dan ukhuwah, dan berbagai pelatihan lainnya. Pengembangan kapasitas mitra dan kelompok di awal keikutsertaannya sebagai calon kelompok juga dilakukan, yaitu diwajibkan mengikuti Latihan Wajib Kelompok (LWK).

Pembinaan secara umum memiliki tujuan kemandirian mitra dan kelompok, juga pengurus ISM. Dari tahun ke tahun, keterlibatan pengurus ISM dalam menjalankan kegiatan komunitas terus ditingkatkan. Perkembangan aktifnya pengurus bisa dilihat pada pelaksanaan Rapat Induk dan ISM secara rutin seminggu sekali tanpa kehadiran pendamping. Begitu juga pada pembiayaan, pelaksanaannya sudah melibatkan pengurus ISM pada tahun ketiga masa pendampingan. Penyelenggaraan LWK pun juga sudah melibatkan pengurus ISM.

Dalam proses pendampingan, terdapat beberapa perubahan persepsi dan mental para mitra tentang beberapa persoalan. Pertama, pendapat tentang bunga bank, awalnya dianggap tidak apa-apa,  berubah tak mau lagi menggunakan bunga bank (di Buanajaya marak bank keliling). Kedua, rata-rata mitra mau belajar mencatat, meskipun awalnya merasa repot, sebagian ada yang tidak bisa mencatat. Ketiga, para mitra berani memberikan uraian singkat berisikan nasehat pada tiap pertemuan. Keempat, para mitra makin intensif terlibat pada proses pembiayaan yang awalnya dipegang sepenuhnya oleh PM.
 
Program Pembangunan Sosial

Di samping melalui peningkatan ekonomi yang berorientasi pada pemberdayaan mitra, program pemberdayaan di Buanajaya juga menjangkau semua warga desa agar turut merasakan manfaat dengan adanya program MM. Untuk memenuhi kebutuhan ini, diselenggarakan program pembangunan sosial (PPS) yang menjangkau bidang agama, pendidikan, kesehatan dan lingkungan.

PPS yang pernah dilakukan di Buanajaya di antaranya yakni: pembinaan anak putus sekolah melalui pengadaan SLTP Terbuka, pesantren kilat dan Ceria Anak Desa (CAD) yang melibatkan anak-anak sekolah serta guru-guru dalam berbagai perlombaan. Kegiatan CAD dimaksudkan untuk mensosialisaikan perpustakaan yang telah didirikan serta memotivasi semangat belajar anak-anak sekolah. Di bidang kesehatan, dilakukan rekrutmen kader bina sehat yang bertugas sebagi kader kesehatan di Buanajaya.

Aktivitas program sosial tersebut biasanya melibatkan pengurus ISM sendiri dalam penyelenggaraan untuk kepentingan warga Buanajaya secara umum.  Pengurus ISM menjalankan kerjasama dengan unsur masyarakat setempat dan pihak terkait lainnya. Program PPS dilaksanakan untuk mereka yang sama sekali tidak bisa disentuh melalui pendekatan secara microfinance. Tujuan diadakannya kegiatan PPS adalah adalah adanya pemerataan pemberdayaan masyarakat baik warga yang memiliki usaha produktif juga mereka yang hanya bisa dibantu melalui program charity. Program santunan meliputi: pemberian honor guru, pengobatan massal, beasiswa anak sekolah, dan santunan jompo.

Beberapa aktivitas sosial didanai oleh para mitra sendiri. Di antaranya perayaan hari besar Islam, membangun saung untuk kantor ISM dan kantor Induk Cibeureum. Juga lomba pidato yang murni ide para mitra dan melibatkan mitra sebagai kontestan.

Diposting oleh Hery D. Kurniawan
Diposting pada hari Rabu, 24 Juni 2009 11:56:18


<<-- Kembali


Sinergi & CSR



HIGHLIGHT


Program Kelompok Pengusaha Makanan Sehat (KPMS) Kerjasama dengan Hypermart
Program Kelompok Pengusaha Makanan Sehat (KPMS) Kerjasama dengan Hypermart
PEMBERDAYAAN EKONOMI PEREMPUAN PERKOTAAN KERJASAMA DENGAN KESUMA TIARA
PEMBERDAYAAN EKONOMI PEREMPUAN PERKOTAAN KERJASAMA DENGAN KESUMA TIARA

Woro-Woro



 
Spirit



Sepenuh Hati dari Titik Awal
Sepenuh Hati dari Titik Awal
Manifesto Pemberdayaan: Inovasi Tiada Henti
Manifesto Pemberdayaan: Inovasi Tiada Henti
Mimpi untuk  Indonesia
Mimpi untuk Indonesia
With Sweet Potatoes, From Kuningan to Rotterdam
With Sweet Potatoes, From Kuningan to Rotterdam
Hopes and Dreams of ISMs
Hopes and Dreams of ISMs


Photo Gallery


Ismail A. Said, Presdir Dompet Dhuafa bersama jajaran Masyarakat Mandiri, LP POM MUI, dan Pemda Jaka


Video Gallery


Revitalisasi Posyandu dengan Usaha Ekonomi di Tangerang
Revitalisasi Posyandu dengan Usaha Ekonomi di Tangerang
Menjadikan Petani Kelapa Tuan Rumah di Negeri Sendiri
Kampung Tahu
Kampung Tahu (part2)
Batik Alami
Batik Alami 1
Kecil-kecil Bersertifikat Halal
Ikrar Mitra
Penguatan IRT Snack Ciamis
Pemberdayaan Perempuan Penjual Makanan di Surabaya
Pemberdayaan Perempuan Penjual Makanan di Surabaya (2)
Nabung Gula Buat Sekolah (1)
Nabung Gula Buat Sekolah (2)
Ketahanan Pangan (Singkong) di Lampung
Ketahanan Pangan (Singkong) di Lampung (2)
Warung Anak Sehat

 

 
Designed & Developed By Solusi-IT.Com