Masyarakat mandiri memiliki fokus kerja pada pemberdayaan masyarakat dengan sistem pendampingan yang intensif, komprehensif dan terpadu. MM memiliki program di antaranya program pembiayaan (microfinance), pendampingan, serta program-program lain (sosial). MM juga mempersiapkan kelembagaan lokal yaitu Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) yang nantinya ketika masyarakat dampingan dilepas (exit strategy), ISM yang akan menggantikan dan menjalankan tugas pendampingan.
Sejak April 2000, terdapat 4 (empat) desa di Kabupaten Bogor, Tangerang dan Bekasi yang masih menjadi sasaran pendampingan komunitas pedesaan (rural) sampai saat sekarang. Desa-desa tersebut adalah Rancalabuh, Kecamatan Kemiri (belakangan desa ini terjadi pemekaran wilayah) lalu Muara, Kecamatan Teluk Naga di Kabupaten Tangerang. Desa Sukawijaya, Kecamatan Tambelang Kabupaten Bekasi, serta Desa Buanajaya, Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor.
Untuk melihat lebih jauh desa-desa dampingan, dan apa saja yang dilakukan, secara berseri akan ditampilkan gambaran desa dan program-program pemberdayaannya. Kita mulai dari Desa Muara Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang.
PENDAMPINGAN KOMUNITAS DESA MUARA
Desa Muara, Kec. Teluknaga, Kab. Tangerang
Desa muara terletak di Kecamatan Teluk Naga Kabupaten Tangerang dan termasuk desa IDT (Inpres Desa Tertinggal). Letak desa ini kurang lebih 7 km dari kota kecamatan atau 23 km dari ibukota kabupaten. Perjalanan ke lokasi dapat ditempuh dari ibu kota kecamatan dengan mengendarai angkutan umum dan ojek, dengan kondisi jalanan sebagian berbatu, becek bila musim hujan tiba, serta berlubang.
Sebagian besar mata pencaharian masyarakatnya adalah buruh tani dan nelayan pinggir. Pendapatan mereka rata-rata berkisar Rp 10.000 – Rp 15.000,-/hari/keluarga dengan tanggungan 4-9 orang, sehingga bisa disebut lebih dari 75% adalah keluarga pra sejahtera. Minimnya pendapatan mereka berimplikasi pada rendahnya kualitas SDM. Banyak warga hanya tamat SD atau tidak tamat, bahkan menurut data tahun 2000, terdapat 494 jiwa tidak bisa membaca.
Program Masyarakat Mandiri (MM) mulai diperkenalkan di desa Muara pada bulan Mei 2000. Sebelum terpilih menjadi salah satu desa dampingan MM, telah dilakukan survey dan pemetaan sumberdaya alam, sumber daya manusia dan kondisi sosial ekonomi warganya.
Mitra dan Kelompok Mandiri
Mitra merupakan istilah untuk menyebut warga yang masuk dalam program pendampingan. Beberapa mitra kemudian berkumpul membentuk Kelompok Mandiri (KM). Beberapa KM berkumpul di bawah koordinasi Ketua Induk. Adapun lembaga lokal yang mengkoordinasikan Induk-induk adalah Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM). Pada tahun pertama atau sampai bulan Maret 2001, di Muara telah dibentuk 5 Induk dengan 13 Kelompok Mandiri dan 60 mitra.
Sampai Oktober 2005, terdapat mitra sejumlah 55 orang, tergabung dalam 14 Kelompok Mandiri dan 3 Induk. Mereka tersebar di Induk Muara Pantai Harapan (MPH), Induk Garapan, Induk Kartini dan Induk Tanjungan.
Inti program MM dalam proses pendampingan di antaranya adalah peningkatan ekonomi mitra dengan jalan pembiayaan atas usaha para mitra. Metode awal dalam pembiayaan dengan pinjaman atau qardhul hasan untuk memulai atau mengembangkan usaha mereka. Pada perkembangannya, pembiayaan ini diterapkan model BBA (albai ’u bitsaman ajil) atau murabahah atau jual beli, yang diperkenalkan pada tahun ke-4. Model terakhir yang juga diterapkan dalam pembiayaan adalah bagi hasil.
Usaha mitra yang dibiayai cukup beragam, meskipun sebagian besar adalah usaha nelayan pinggir dan pedagang. Usaha nelayan di Muara terdiri nelayan tambak, nelayan perahu, nelayan jala, nelayan sero, nelayan buruh dan nelayan bubu. Sedangkan usaha dagang meliputi pakaian, jajanan, ikan, warungan, sayuran, dan buah-buahan. Ada juga usaha lain yaitu ternak bebek, pembuatan taucho, pembuatan trasi, bengkel dan air minum.
Dalam perkembangan mitra, terdapat mitra-mitra yang tidak aktif dalam mengikuti pertemuan induk dan belum melunasi AMW. Mereka inilah yang disebut mitra non aktif, yang jumlahnya per Mei 2005, tercatat 24 orang. Ada juga 24 mitra yang sudah lepas, biasanya hal ini dikarenakan mereka sudah lunas AMW, atau sudah meninggal dunia.
Di tingkat induk, dikembangkan juga program Infaq Induk Mingguan (IIM) bertujuan membiasakan para mitra berinfaq untuk kepentingan sesama yang membutuhkan. Infaq ini juga memiliki fungsi modal sosial dalam penguatan kelompok demi kebaikan komunitas. Para mitra juga dibiasakan menabung dengan program Tabungan Mitra (TAMI).
Pendampingan
Pendampingan dilakukan melalui forum mitra, rapat Induk, pelatihan khusus dan silaturahmi ke rumah mitra. Para mitra mendapatkan tambahan pengetahuan dalam setiap rapat Induk setiap minggu. Pengetahuan tersebut adalah soal agama, ekonomi, sosial, kesehatan dan keorganisasian. Materi diberikan oleh Pendamping Mandiri (PM), Ketua Induk ataupun mengundang pembicara dari luar.
Pendampingan yang pernah dilakukan berupa: kursus baca tulis Latin, latihan pembukuan keuangan sederhana, ceramah soal muamalah dan ukhuwah, pelatihan ternak bebek dan berbagai pelatihan latihan. Namun, pendampingan pokok untuk mengembangkan kapasitas mitra dan kelompok, para mitra di awal keikutsertaannya sebagai mitra diwajibkan mengikuti Latihan Wajib Kelompok (LWK).
Pendampingan memiliki tujuan kemandirian mitra dan kelompok, juga pengurus ISM. Dari tahun ke tahun, keterlibatan pengurus ISM dalam menjalankan kegiatann komnitas terus ditingkatkan. Perkembangan aktifnya pengurus bisa dilihat pada pelaksanaan Rapat Induk dan ISM secara rutin seminggu sekali tanpa kehadiran pendamping. Begitu juga pada pembiayaan, pelaksanaannya sudah melibatkan pengurus ISM pada tahun ketiga masa pendampingan. Penyelenggaraan LWK pun juga sudah melibatkan pengurus ISM.
Penguatan kelembagaan merupakan bagian inti dari pendampingan. Pada pertemuan setiap Kamis, dalam pendampingan rutin juga diberikan materi-materi untuk penguatan kelembagaan. Pengurus mendapatkan materi di antaranya: pendalaman buku panduan MM, pendalaman model syirkah dan murabahah, pemeriksaan surat permohonan pembiayaan, penyeleksian hasil SKM (Studi kelayakan mitra), dan pendalaman materi LWK.
Di samping melalui peningkatan ekonomi, program pemberdayaan selain menyentuh para mitra, juga menjangkau semua warga desa agar turut memetik manfaat. Untuk memenuhi kebutuhan ini, diselenggarkan program pembangunan sosial (PPS) yang menjangkau bidang agama, pendidikan, kesehatan dan lingkungan. PPS yang pernah dilakukan di Muara di antaranya yakni: santunan rutin bulanan manula dan fakir miskin, aksi layanan sehat, beasiswa prestasi anak mitra, Pekan Ramadhan, dan Tebar Hewan Kurban.
Aktivitas program sosial tersebut juga mereka sendiri yang menyelenggarakan untuk kepentingan warga Muara secara umum. Pengurus sudah bisa menajalankan kerjasama dengan unsur masyarakat setempat dan pihak terkait lainnya. Di awal-awal masa pendampingan, program sosial lebih bersifat charity, namun masa-masa berikutnya porsi charity dikurangi. Bahkan, keterlibatan mitra dan warga umumnya dalam kegiatan sosial tidak saja pada tenaga dan waktu, tapi juga pendanaan.
Usaha Sentra
Usaha sentra adalah kelompok usaha yang berada dalam satu kawasan yang menggunakan bahan baku dan output yang sama. Ada dua usaha sentra yang dikembangkan di sini, tambak dan ternak bebek. Usaha tambak seluas 15 ha dikelola oleh 2 kelompok usaha mitra (KUM), melibatkan 8 mitra. Sedangkan usaha ternak bebek pernah diikuti 13 mitra yang tersebar di Induk Garapan dan MPH.
Tambak telah dikembangkan sejak catur wulan I tahun ke-4, dan sempat dilakukan panen pertama, meski hasil panen ikan dan udang masih belum menguntungkan. Dari target 65% bibit yang ditanam pada lahan Mina Garapan Sejahtera berhasil ditangkap 95%. Namun, terjadi musibah perahu terbalik ketika menjual hasil panennya, menyebabkan sekitar 400 Kg ikan tak bisa diselamatkan. Penyebab lain kerugian adalah harga jual rendah, akibat terendamnya tambak di pantai utara dan dipanen terlampau cepat.
Ternak bebek awalnya merupakan usaha alternatif bagi mitra nelayan di Muara. Secara perhitungan usaha ini diketahui keuntungannya dan secara teknis mudah dipelajari. Namun, pada perkembangannya mitra ternak bebek mendapatkan kesulitan air karena kondisi air asin di daerah MPH, selain persoalan pakan. Sebagian ternak bebek kemudian dialihkan ke Induk Garapan.
(bersambung)