Pemberdayaan komunitas memiliki beberapa tujuan. Tercapainya kemandirian material komunitas sasaran, kemandirian intelektual komunitas sasaran, serta kemandirian manajemen komunitas sasaran. Pemberdayaan di Desa Buanajaya, Kecamatan Tanjung Sari, Bogor memperlihatkan sebagian hasil dari proses pendampingan yang telah dilakukan selama lebih dari lima tahun.
Pemberdayaan Ekonomi
Pemberdayaan ekonomi merupakan langkah penting pada program pemberdayaan di Buanajaya. Manfaatnyapun dapat dirasakan sebagian besar mitra yang tergabung dalam beberapa Kelompok Mandiri (KM), bahkan seluruh mitra. Secara ekonomi, mayoritas mitra mengalami perubahan pendapatan.
Beberapa mitra yang mengalami perubahan menonjol bisa dikemukakan. Seorang mitra dari Dusun Cibeureum bernama Yuyun, menemukan kemajuan secara ekonomi. Sebelum ada program, Yuyun hanya pedagang warung kecil dengan barang yang dijual amat terbatas dan sering kehabisan stok. Yuyun malah acapkali tidak bisa belanja lagi, yang membuatnya kadang menutup warung. Yuyun pun sama dengan warga Cibeuruem lain, mencari solusi modal dengan lari ke bank keliling.
Bank keliling yang marak di Buanajaya menerapkan bunga hingga 30%. Nasabah harus menyicil harian selama 40 hari. Bunga 30% itu diambil duluan oleh si ‘bankir’, plus biaya administrasi. Alih-alih modal warga bisa melejit, bank keliling malah membuat warga tercekik. Tak terkecuali pada diri Yuyun dan Yayan suaminya. Ketika mereka pinjam ke bank keliling, kondisi usaha, malah makin tidak menentu. Ribapun membuat usahanya terasa tak barokah, berdampak pula ke suasana kehidupan rumah tangganya.
Ketika datang program pemberdayaan dari Masyarakat Mandiri (MM), Yuyun sempat ragu-ragu dan curiga. Terselip bayangan yang lebih menakutkan daripada keburukan bank keliling. Mitra lain yang lebih dulu menyambut program itu meyakinkan Yuyun dengan penjelasan mengenai berbagai manfaat program MM. Di antaranya, terbebasnya pembiayaan dari praktek bunga/riba dan cicilan ringan. Begitu bergabung sebagai mitra, Yuyunpun menemukan manfaat besar, di antaranya ia tak perlu menutup warung karena kehabisan modal. Keterlibatan makin dalam. Yuyun memasang niat memajukan program ini, dan mencanangkan cita-cita menekan keberadaan bank keliling di desanya.
Tak hanya Yuyun. Banyak warga lainnya yang kemudian bersedia menjadi mitra, percaya pada manfaat yang dibawa program pemberdayaan. Dari awal program, Pendamping Mandiri (PM) memfasilitasi berbagai pengembangan kualitas melalui pertemuan-pertemuan. Mitra belajar tentang kemandirian, motivasi berwiraswasta, mengenal beberapa model pembiayaan (qardhul hassan, BBA, bagi hasil). Tak sedikit informasi tentang berbagai hal yang sebelumnya tak dikenal, lalu mereka mengenalnya.
Beberapa warga juga patut menjadi contoh dalam hal kemajuan ekonomu. Bu Nyai dulunya memiliki warung panggung saung, kini sebagian sudah disemen. Untuk menunjang jualan, ia membeli kulkas untuk membuat es dan menyimpan sayuran. Bu Jaon memiliki warung, sekaligus membuka service motor.
Di Induk Wangun, mitra bernama Epong memiliki usaha tahu. Dulunya, produksi tahu dikerjakan secara tradisional, dan dipasarkan di Dusun Wangun saja. Dengan pembiayaan dari MM, ia bisa membeli mesin penggilingan kedelai, lalu sudah bisa melayani konsumen tahu seluruh Buanajaya. Enama mitra Wangun lainnya dengan usaha warungan juga alami kemajuan, sebagian bisa menginvestasikan masing-masing dalam bentuk lahan sawah, sapi dan kambing.
Di Induk Cigulingan, ada Nana penjual gorengan dengan bakul keliling, kini memiliki mesin giling untuk membuat kue sistik dan sejenisnya. Lalu ada juga Titin, kini punya usaha konveksi tas, dulunya hanya penjahit kecil. Di Induk Gobang, ada nama Sukmana, yang bisa mengembangkan usaha kredit barang-barang elektronik, jam dan mainan anak-anak.
Karet, Pisang dan Aren
Mitra di Buanajaya memiliki aset produktif berupa lahan. Mereka hanya menggarap lahan untuk tanaman tidak produktif, atau untuk konsumsi sendiri. Setelah ada masukan dalam pendampingan, tentang bagaimana manfaat lahan, merekapun jadi lebih produktif. Banyak mitra dengan usaha warungan, juga mengembangkan lahannya untuk ditanami pisang dan karet. Sebagian mitra membeli sapi.
Beberapa tahun lalu, warga yang menanam karet biasanya cuma para juragan atau sesepuh. Pendampingan membuka wawasan tentang pengembangan perkebunan. Mitrapun melirik usaha karet. Rohami adalah mitra yang pertama menggarap karet bersama suaminya. Kebetulan ada peluang peremajaan karet. Dengan cepat, mereka tahu harga pasar dan ke mana karet dilempar. Rohami disusul Wiwin. Selain karet, banyak mitra mengembangkan pisang.
Produk holtikultural berupa pisang di Buanajaya memang melimpah. Namun, warga biasanya akan menjual pisang, jika ada pedagang dari kota. Kalau pedagang dari kota tak datang, pisang Cuma untuk dikonsumsi sendiri atau dibagi-bagi ke tetangga. Pisang yang biasa dijual mitra yaitu pisang nangka, galek/tanduk, madura, lampung, muli, ambon, dan raja. Kini ada seorang mitra, Bu Uneh yang mengembangkan kripik pisang, sebuah usaha yang belum dikembangkan mitra lain. Sementara beberapa mitra lain mengembangkan usaha pembuatan gula aren.
Gotong-Royong, Terbuka dan Pekerja Keras
Keberhasilan pemberdayaan di Buanajaya didukung oleh watak warga yang suka gotong-royong dan terbuka. Warga Buanajaya umumnya memiliki kesadaran gotong-royong tinggi. Begitupun para mitra, yang di antaranya tampak pada kebersamaan dalam pembuatan saung ISM di Cibereum dan Wangun. Untuk saung Induk Cibereum, pembangunan secara swadaya mitra menggunakan tanah Yuyun. Tanpa membeli tanah tersebut, mitra bisa membangun saung dengan biaya sebesar Rp 1,2 juta.
Sifat gotong-royong bisa juga dilihat saat ada program wisata dari Al-Azhar. Warga bahu-membahu turut membuat, lapangan voli, dan wc umum di Cibeureum. Begitupun saat pembangunan masjid kampung Inpres yang dananya dari donator Dompet Dhuafa. Para mitra mengembangkan kebiasaan saling menanggung dan tidak hidup sendiri-sendiri. Bila ada yang kena musibah sakit, mereka saling membantu.
Sifat warga yang juga menguntungkan adalah sangat terbuka terhadap perubahan dari orang luar dan menghargai tamu. Selain itu, warga umumnya adalah pekerja keras. Sebagai ilustrasi sederhana, anak-anak usia kelas 6 SD (nonproduktif) bisa sekolah dari uang sendiri. Mereka biasa membantu orang tuanya sebagai buruh angkut pisang ke mobil, buruh tani, atau mencari kayu bakar.
Catatan Penting
Terdapat beberapa catatan penting pada pendampingan mitra di Buanajaya.
• Kegagalan pemberdayaan ternak domba Cibeureum, karena faktor ketidaktepatan pemberian bantuan. Bantuan domba Garut untuk10 orang, masing-masing 10 ekor banyak yang mati. Faktornya, ternyata kurang cocok dengan alam Cibeureum yang terlalu dingin. Ini didukung oleh kurangnya perhatian peternak dan tidak ada mental usaha ternak mitra. Para mitra peternak sebelumnya merupakan buruh tani atau penjual sayur. Di sini ada pula faktor ketidakamanahan.
• Ketergantungan pada pendamping. Khususnya Induk Wangun, ketika jarang dikunjungi, aktivitas jadi kurang bergairah. Setelah ditelusuri mereka ternyata membutuhkan figur untuk menjaga semangat. Di sini kemunculan Yuyun selaku pengurus ISM memberi jawaban akan kebutuhan figur. Bahkan, warga Cibeureum ini bisa menggantikan posisi pendamping. Ia memiliki sisi leadership, dan kemampuan pengambilan keputusan serta amanah, kendati memiliki keterbatasan: waktu, mobilitas, pengetahuan dan keahlian. Yuyun sendiri juga tak mudah mencari kader di antara mitra.
• Kini telah berdiri Koperasi Serba Usaha ISM Buanajaya. Kendalanya, sulit ditemukan sumberdaya berkualitas, berpendidikan tinggi, dan orang yang punya keahlian terutama mengoperasikan komputer. Jalan keluar yang mulai ditempuh, di antaranya pengurus koperasi mencoba kursus komputer.
• Pada perkembangannya, para pengurus koperasi dan mitra bisa menjalin kerja sama dengan pihak desa dan kecamatan sendiri. Tak segan-segan mereka konsultasi, termasuk dengan tokoh setempat. Inisiatif berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait menuai hasil. Mereka bisa memperoleh solusi dari permasalahan organisasi, juga dukungan aparat dan tokoh masyarakat pada pembentukan koperasi serta kegiatan lain.