Minggu 20-Mei-2012
Ahad 28 Jam Akhir 1433
Website ini bisa diakses versi mobile-nya di gadget Anda!
Menu Utama
Iklan





Hit Counter

 
Versi CetakVersi Cetak
Pelajaran Berharga dari Pemberdayaan Komunitas Desa Muara

(Sambungan tulisan Pemberdayaan Komunitas Pedesaan, Desa Muara)

Banyak hal berharga yang dapat dipetik dari pemberdayaan komunitas pedesaan di Desa Muara. Setiap tahapan dalam proses pemberdayaan, terdapat pelajaran yang bisa dijadikan referensi pada pemberdayaan komunitas di masa mendatang. Beberapa hal bahkan bisa direkomendasikan untuk pemberdayaan desa lain, tentu yang memiliki kesamaan dalam beberapa aspek dengan Desa Muara. Pelajaran berharga ini akan dipaparkan dengan bentuk deskripsi didukung gaya naratif, sehingga enak dibaca.

Peran Tiga Pendekar        
Pada masa sosialisasi, Pendamping Mandiri (PM) mulanya bertemu orang yang ditokohkan di Muara, namanya Saman. Saman ini memiliki pengalaman sebagai Ketua RW di Kampung Garapan dan cukup menguasai persoalan yang berkenaan dengan urusan birokrasi pemerintahan desa. Orang kedua yang memiliki sisi ketokohan di desanya adalah Nasan. Ia seorang nelayan yang berpendirian kuat dan tak mau diam memikirkan diri sendiri, melainkan peduli pada nasib warga Muara. Pada dasarnya Saman dan Nasan termasuk orang-orang yang mau belajar untuk maju, namun nasib berkata lain karena terbentur kondisi ekonomi yang terus di bawah.

Ketika pihak MM memperkenalkan program pendampingan, keduanya percaya, inilah saatnya untuk mengubah keadaan. Kepedulian keduanya pada nasib warga sekitarnya menjadi modal teramat berharga. Keduanya memiliki tekad yang sama, inilah kesempatan berkarya untuk masyarakat Muara. PM terus melakukan pendekatan sekitar dua pekan lamanya. Seperti gayung bersambut, Saman juga tak mau tinggal diam dengan ajakan PM. Iapun mengajak Mursidi, seorang ayah muda memiliki semangat tinggi, tegas dan selalu ingin belajar. Pada perkembangannya, Mursidi menjadi penyeimbang Saman dan Nasan. Karena Mursidi lebih tegas dan menjadi modal kepercayaan teman-temannya untuk kemudian menjadi ketua ISM.

Dari segi pendidikan, Saman dan Mursidi tidak tamat Sekolah Dasar, sedangkan Nasan tidak tamat SLTP. Namun, ketiganya memiliki modal pengembangan diri yang kuat, sekaligus modal pengembangan warga sekitarnya yang besar pula. Karena itu, mereka menjadi the three musketeer atau pendekar di masa awal pendampingan, bahkan sampai kini ketiganya menjadi tulang punggung dinamika ISM sebagai lembaga lokal di Muara, yang tak kenal lelah.


Dari Nelayan Pinggir ke Nelayan Nengah

Seperti yang pernah dibahas di tulisan pertama “Pendampingan Komunitas Desa Muara”, warga yang memiliki usaha nelayan pinggir dan pedagang adalah bagian terbesar yang bergabung sebagai mitra. Mayoritas nelayan di sana adalah nelayan pinggir, jangkauannya hanya 20-an meter dari bibir pantai. Bisa dikatakan, nelayan di sana teramat tradisional. Praktis mereka menjadi nelayan-nelayan miskin. Mereka miskin karena alat tangkap ikan atau udang, tidak mencukupi. Mereka rata-rata tak bisa bergerak jauh dari pantai. Pada tahapan ini, PM menemukan kunci persoalan: nelayan dengan alat tangkap memadai memperoleh ikan lebih banyak daripada yang kurang  memadai.

Fokus pembinaan mitra Nelayan di Muara diarahkan pada peningkatan hasil tangkapan. Arahan ini didukung dengan pembiayaan pada nelayan dengan sistem pinjaman murni diperuntukkan bagi pembelian peralatan tangkap. Sebanyak 27 orang nelayan tercatat sebagai mitra di awal program pendampingan ini. Beberapa nelayan bisa membeli bubu, sebuah alat penjebak ikan yang biasa dipasang di pengkolan-pengkolan sungai. Mitra Muara memanfaatkan sungai yang menuju muara sebagai lahan pencarian ikan seperti itu dan lazim disebut nelayan bubu. Beberapa nelayan bisa membeli perahu lebih besar seperti yang dilakukan Nasan dan Mursidi. Sebagian bisa membeli jala baru, mesin perahu baru atau bubu yang lebih baik.

Setelah program pendampingan berjalan, ada pergeseran status pada sebagian mitra nelayan berdasar kepemilikan alat tangkap. Dari nelayan pinggir ke nelayan nengah.  Mereka telah mampu memperluas areal tangkapan ikan dan udang. Perahu yang ada pun bisa dimanfaatkan untuk membawa hasil tangkapan ke pelabuhan pasar ikan di Kamal, Jakarta Utara. Selain untuk menangkap ikan, sebagian mitra menggunakan perahunya untuk menjual air bersih untuk keperluan nelayan.

Peran Para Nelayan

Pada enam bulan pertama masa pendampingan, setoran dari pembiayaan modal usaha mitra cukup lancar. Dalam kamus mitra, dikenal  istilah Disiplin Pembayaran untuk mengukur kedisiplinan membayar setoran, selain Disiplin Kelompok. Istilah Disiplin Kelompok mengacu pada kehadiran di rapat mingguan. Di samping itu, tabungan mitra atau yang dikenal dengan TAMI saat itu, juga cukup tinggi. Bahkan, tabungan yang dikoordinasi oleh kelompok tersebut tertinggi dibandingkan mitra di desa dampingan lainnya.

Meski pendapatan tak seberapa,  semangat berinfak mitra Muara  tak tertinggal dengan kaum yang lebih berada. IIM (Infak Induk Mingguan) yang dikeluarkan setiap pertemuan pekanan sebesar Rp 500,- / mitra ini ternyata dapat membantu meringankan beban kesulitan warga yang lain.  Sebanyak 3 dari 5 Induk yang ada di Muara masing-masing memiliki 3 – 5 anak asuh yang didanai pembayaran SPP sekolahnya. IIM juga bisa membantu kelengkapan peralatan musholah, membantu pengobatan yang sakit dan bahkan Induk Garapan sempat  mengadakan “hajatan” saat mengkhitan seorang yatim.
 
Dunia nelayan sangat tergantung pada musim. Pada masa pengembalian pembiayaan kebetulan tepat memasuki bulan Desember,  atau musim  angin barat. Pada musim ini panen ikan bagus. Jika dirata-rata perolehan nelayan meningkat 50 %. Bagi mitra model qardhul hasan, sangat membantu mereka karena lebih murah, terutama kalau dibandingkan dengan mengutang pada orang lain. Apalagi pada bank keliling yang banyak berkeliaran dan  sudah pasti dengan bunga yang menjerat leher.

Peran lebih yang patut dicatat dari para mitra nelayan ditunjukkan oleh kemampuan mereka menjadi aktor penggerak keberlangsungan aktivitas mitra dalam program. Sejak awal program, telah muncul para penggerak atau kader lokal yang mau bekerja untuk kemajuan mereka bersama. Bersemangatnya kader lokal ini dikarenakan sejaka dulu mereka mendambakan adanya wadah organisasi  bagi nelayan yang dapat mengubah kondisi jadi lebih baik. Karenanya, dorongan untuk berkumpul dan mengubah kondisi mereka sendiri sangatlah kuat. Penguatan kelembagaanpun dilakukan dalam rangka peningkatan kemampuan. Hal ini dimulai dengan pembentukan Forum Mitra Mandiri Muara (FM-3)

Forum tersebut mulai memeras otak untuk memecahkan persoalan komunitas nelayan kebanyakan. Salah satunya persoalan jauhnya lokasi pembelian peralatan nelayan. Merekapun membuka kios Nelayan FM3 sebagai usaha bersama. Modalnya merupakan patungan dari mereka sendiri. Mitra nelayan menyetor modal masing-masing Rp 20.000,- yang didukung mitra nonnelayan sebesar Rp10.000,- tiap orang. Kios tersebut  sampai kini masih terus melayani kebutuhan usaha para nelayan.

Mitra nonnelayan rata-rata adalah pedagang. Hanya sebagian kecil di bidang industri rumah tangga dan bengkel. Warung jajanan menjadi pilihan primadona para mitra pedagang. Pembeli mereka tak lain ialah para nelayan atau keluarganya.  Awalnya usaha jajanan yang dibiayai dengan sistem pinjaman ini sangat meningkat karena perolehan nelayan juga naik. Sebagian isteri nelayan juga punya usaha warung jajanan. Namun, begitu musim paceklik  bagi nelayan, pemilik warung jajanan juga mengalami paceklik.

Ancaman Multiplier
Sejauh ini pembiayaan yang digulirkan MM di Desa Muara memang membantu dalam hal investasi, terutama kepemilikan aset produktif  para mitra nelayan berupa alat tangkap. Begitupun bagi mitra bukan nelayan dengan aset usahanya. Akan tetapi, para mitra ini belum bisa mengembangkan usaha dari sisi produk maupun perluasan pasar yang lebih besar. Hanya beberapa orang saja yang berani ekspansi wilayah dan berarti meningkat secara pendapatan dan kesejahteraan. Sebut saja Nasan yang selain memiliki perahu besar dengan empat buruh, juga memiliki usaha mobil untuk mengangkut barang (cargo) ke bandara Soekarno Hatta-Tangerang. Di bidang usaha dagang, ada Yanah, Ketua Induk Garapan yang berani membesarkan usaha dagang pakaian dan memenuhi kebutuhan pakaian sampai luar desa.

Pada usaha warung, terdapat nama Titin yang bisa memajukan usaha warungnya. Dari usahanya, ia sanggup menyekolahkan anak sampai tingkat SLTP. Di bidang usaha ternak bebek, nama Sarim cukup berhasil, mengingat beberapa peternak di Induk Muara mengalami kegagalan. Malah, Sarim sanggup menyekolahkan anaknya hingga SLTA. Ada juga Sari yang dengan mengambil pembiayaan untuk modal suaminya membuka bengkel motor dan sepeda. Nama terakhir termasuk yang bisa entas dari kemiskinan. Selebihnya,  mitra-mitra lain boleh disebut tidak mengalami perkembangan usaha yang terlalu berarti.

Usaha nelayan di Muara kadang juga mengalami kelesuan. Lesunya perkembangan usaha nelayan diperparah dengan kondisi cuaca yang tak ramah. Memasuki  semester dua, nelayan mulai mengeluhkan pengaruh cuaca pada hasil tangkapan ikan atau udang. Ancaman bagi jalannya usaha nelayan lain diperparah oleh adanya pencemaran laut oleh limbah pabrik yang makin tinggi. Hal ini dialami juga oleh nelayan pantai utara umumnya. Pencemaran limbah makin tinggi karena jumlah pabrik yang membuang limbah ke laut makin banyak dari waktu ke waktu.

Terlebih ketika musim hujan tiba, pabrik lebih banyak membuang limbah ke laut. Kondisi ini berdampak terutama pada udang yang memang sangat rentan pada limbah, sehingga udang banyak ‘migrasi’ ke laut yang lebih tengah. Bahkan bibit udang ikut mati. Tak ketinggalan juga, usaha tambak bandeng ikut terkena dampak limbah. Di Muara, beberapa mitra menggarap tambak dengan cara menyewa lahan tambak. Lahan tambak di sana umumnya dimiliki para taipan bukan warga desa tersebut.

Nelayan subur usaha lain subur. Karena cuaca dan limbah, prinsip itu menjadi terbalik, keduanya menjadi ancaman multiplier. Pendapatan mitra pedagang ikut turun akibat turunnya hasil tangkapan ikan para mitra nelayan.


Diversifikasi Usaha

Meskipun kondisi alam yang tak lagi bersahabat, tak membuat para nelayan menyerah pasrah pada keadaan. Para pengurus ISM telah memikirkan pengembangan usaha darat, tak berpaku terus pada usaha nelayan. Profesi nelayan tetap menjadi usaha pokok mereka. Ada gejala menarik, pada anak beberapa mitra yang sudah masuk usia produktif ternyata tak lagi berkutat meneruskan usaha nelayan. Tak sedikit mereka lalu bekerja sebagai buruh di bandara Sukarno Hatta, selain sebagai satpam atau penjaga gudang di pabrik-pabrik Kota Tangerang.

Pola pikir pengembangan usaha di darat sudah dimulai dengan pembukaan usaha baru oleh beberapa mitra. Selain usaha cargo-nya Nasan, contoh menarik lain adalah usaha Odong-odong sepeda, semacam kereta mainan anak  keliling dari kampung ke kampung. Jenis usaha ini dilakukan oleh Maman yang mengambil pembiayaan dari MM yang dijalankan oleh adiknya. Maman sendiri selain telah memiliki dua buah bubu dengan mengambil modal pembiayaan dari dana bergulir di ISM Muara, ia juga menjual air bersih ke tambak-tambak di sana. Ada pula mitra yang membuka jasa pengantar bibit bandeng ke kota.

Terdapat 12 orang nelayan ingin meningkatkan kapasitas alat tangkap ikan. Mereka rata-rata telah mengambil skim pembiayaan sekitar Rp 2 juta untuk pembelian perahu atau mesin, namun kapasitas alat-alat itu belum  memungkinkan mencari ikan jauh ke tengah. Mereka berencana membeli perahu atau mesin berkapasitas lebih besar, namun terhambat akibat  pembiayaan pertama belum lunas. Mereka rata-rata mitra aktif dalam kehadiran, tetapi soal pembayaran sekitar 50% mitra nelayan termasuk kurang lancar karena pendapatan masih pas-pasan. Usaha pembinaan selama ini untuk mengatasinya yaitu meminimalisir pengeluaran, pengaturan keuangan keluarga,  dan memberi wawasan peluang kerja bagi anak-anak mitra. Pada tahap ini, mereka juga telah memproyeksikan membuka usaha di darat yang dijalankan anggota keluarga, jika skim pinjaman pertama telah lunas.

(Tulisan berikutnya “Jatuh Bangun Penumbuhan Lembaga Lokal di Muara&rdquo

Diposting oleh Hery D. Kurniawan
Diposting pada hari Rabu, 24 Juni 2009 11:39:30


<<-- Kembali


Sinergi & CSR



HIGHLIGHT


Program Kelompok Pengusaha Makanan Sehat (KPMS) Kerjasama dengan Hypermart
Program Kelompok Pengusaha Makanan Sehat (KPMS) Kerjasama dengan Hypermart
PEMBERDAYAAN EKONOMI PEREMPUAN PERKOTAAN KERJASAMA DENGAN KESUMA TIARA
PEMBERDAYAAN EKONOMI PEREMPUAN PERKOTAAN KERJASAMA DENGAN KESUMA TIARA

Woro-Woro



 
Spirit



Sepenuh Hati dari Titik Awal
Sepenuh Hati dari Titik Awal
Manifesto Pemberdayaan: Inovasi Tiada Henti
Manifesto Pemberdayaan: Inovasi Tiada Henti
Mimpi untuk  Indonesia
Mimpi untuk Indonesia
With Sweet Potatoes, From Kuningan to Rotterdam
With Sweet Potatoes, From Kuningan to Rotterdam
Hopes and Dreams of ISMs
Hopes and Dreams of ISMs


Photo Gallery


Ismail A. Said, Presdir Dompet Dhuafa bersama jajaran Masyarakat Mandiri, LP POM MUI, dan Pemda Jaka


Video Gallery


Revitalisasi Posyandu dengan Usaha Ekonomi di Tangerang
Revitalisasi Posyandu dengan Usaha Ekonomi di Tangerang
Menjadikan Petani Kelapa Tuan Rumah di Negeri Sendiri
Kampung Tahu
Kampung Tahu (part2)
Batik Alami
Batik Alami 1
Kecil-kecil Bersertifikat Halal
Ikrar Mitra
Penguatan IRT Snack Ciamis
Pemberdayaan Perempuan Penjual Makanan di Surabaya
Pemberdayaan Perempuan Penjual Makanan di Surabaya (2)
Nabung Gula Buat Sekolah (1)
Nabung Gula Buat Sekolah (2)
Ketahanan Pangan (Singkong) di Lampung
Ketahanan Pangan (Singkong) di Lampung (2)
Warung Anak Sehat

 

 
Designed & Developed By Solusi-IT.Com