Agar Jajanan Tak Sehat Tak Diperjualbelikan

Kampanye "Ayo Peduli Jajanan Sehat!" - Punya anak usia taman kanak-kanan atau sekolah Dasar? Apa yang mudah nampak di sekitar sekolah mereka? Tepat, pedagang jajanan. Sebagian, menggunakan minyak goreng (pedagang gorengan), atau zat pewarna (penjual kue basah, pengguna saus buatan).
Anda hirau anak Anda, atau anak-anak Indonesia? Kalau ya, waspada kualitas jajanan mereka. Sejumlah temua menunjukkan penggunaan limbah minyak goreng dari resto besar dijernihkan untuk menggoreng jajanan di kaki lima. Jernihnya minyak bekas itu tak mengubah sifat karsikogenik (memicu kanker) karena pemakaian berulangkali.
Benar, di dunia, limbah minyak goreng bisa dimanfaatkan, seperti untuk bahan dasar industri sabun, pupuk, pakan hewan, cat, dan bahan bakar bio-diesel. Tak satupun diolah untuk dikonsumsi manusia karena efek karsikogeniknya.
Zat pewarna tekstilnya – misalnya rhodamin-B – berbahaya jika digunakan untuk pewarna makanan atau saus ”tomat” buatan. Jika masuk perut lewat makanan jajanan atau saus, memicu keluhan pusing dan mual. Ia pun bersifat karsikogenik.
Kampanye peduli pangan sehat, tak cukup bergerak di sisi konsumen. Pada umumnya, pengguna zat berbahaya dalam jajanan, pedagang kecil. Kesadaran sepihak di tingkat konsumen, mematikan usaha kecil. Mereka terpaksa pakai minyak bekas atau pewarna tekstil karena bermodal kecil. Bahan berbahaya seperti itu dipilih karena murah demi kelangsungan usaha mereka.
Kampanye peduli jajanan sehat, dilakukan lewat publikasi di berbagai media, dan penyuluhan makanan jajanan (makjan) sehat untuk pelajar SD sampai SMA serta Komite Sekolah. Di kawasan Jabodetabek misalnya, akan dilibatkan mahasiswa ilmu Teknologi Pangan Institur Pertanian Bogor (IPB). Tak kalah penting, penyuluhan bagi para pedagang makjan dengan materi kewirausahaan dan pengolahan makjan aman-sehat-halal, disusul sertifikasi produk bagi peserta terbaik. Kali pertama, program melibatkan 500 pedagang makjan di Jakarta Selatan, Timur dan Utara.
Di ranah yang lebih tinggi, perlindungan konsumen makjan diikhtiarkan lewat pelibatan pihak terkait untuk (workshop) menyusun kebijakan pembinaan konsumen dan pedagang dalam hal keamanan pangan.
Ayo, selamatkan masyarakat dari mengkonsumsi dan memperdagangkan makjan tak sehat. Membina pengusaha kecil, tak cukup mengedukasi kiat wirausaha yang berkah. Mereka, pengusaha mikro yang perlu sokongan modal agar bisa menyediakan jajanan sehat.
(tulisan di Majalah Khalifah, Edisi 18 Januari 2010
Diposting oleh Hery D. Kurniawan
Diposting pada hari Selasa, 19 Januari 2010 19:28:27