Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 Hijriyah, Mohon Maaf Lahir dan Batin, Taqabbalallahu minna waminkum!
Menu Utama
Iklan







Hit Counter

 
Versi CetakVersi Cetak
Mardiono, Lontong Sayur Pembawa Berkah

Badai moneter 1998 memporakporandakan perekonomian Indonesia. Imbasnya, banyak perusahaan dan pabrik yang mendadak bangkrut. Ratusan karyawan terkena pemutusan hubungan kerja. Mardiono salah satunya. Pria yang sudah tujuh tahun bekerja di perusahaan ekspor impor buah itu, harus kehilangan mata pencahariannya.

“Saat itu saya panik. Saya tidak punya sumber keuangan lain, kecuali mengandalkan gaji bulanan. Ingin buka usaha sendiri, nggak punya kemampuan. Maklum, saya lulusan SMP,” kenang Mardi, panggilan akrabnya.

Mardi menuturkan, Lamini, istrinya, tak bekerja. Sejak Fitriani, anak pertama lahir, Mardi memang memintanya fokus dengan urusan rumah tangga. Mardi sudah pasang badan untuk mencari nafkah dan bertanggung jawab penuh sebagai kepala keluarga. 

Setelah lama jadi pengangguran dengan mengandalkan hidup dari uang pesangon, Mardi mengambil langkah. Ia memulangkan istri dan anaknya ke Cilacap, Jawa Tengah, kampung halamannya. 

“Biaya hidup di Jakarta sangat besar. Setiap hari uang belanja dan jajan anak tak cukup lima belas ribu. Kontrakan mesti dibayar tiap bulan. Sedangkan saya nggak punya pemasukan sama sekali. Nah, kalau di kampung, makan pake sayur dari hasil kebun aja udah cukup,” beber Mardi.
Beberapa bulan Mardi di kampung. Namun, lama-lama rupanya bosan juga menganggur. Ia memilih kembali ke Jakarta, tanpa ditemani istri dan anak semata wayangnya. Hanya saja, sebelum berangkat, ia berjanji, dirinya akan berusaha sebulan sekali pulang kampung.

Di ibukota, kehidupan baru mulai ditata. Mardi numpang hidup di tempat kakaknya yang menjual lontong sayur. Saban hari membantu kakaknya. Ia terlibat semenjak bikin lontong, memasak kuah hingga menjualnya. Lambat laun, Mardi jadi paham proses pembuatan lontong sayur.
Kakaknya lantas memberikan pinjaman modal. Mardi bersyukur mendapat kepercayaan itu. Beberapa peralatan dagang lontong sayur sudah disediakan sang kakak.

“Rata-rata peralatannya bekas kakak. Kalau uang pinjaman saya pake buat belanja bahan-bahan, seperti beras, tahu, telor, dan lainnya,” sebut Mardi. 

Usai shalat Subuh, Mardi mulai menyiapkan perkakas dagangan. Satu persatu dicek. Tak sampai satu jam, semuanya beres. Mardi lalu mendorong gerobaknya. Tangannya memukul-mukul piring dan sesekali berteriak, “lontong sayur…lontong sayur…” Ia berkeliling dari Bidaracina, Jatinegara hingga Cawang. Menjelang Dhuhur, lelaki kelahiran 1970 itu baru pulang ke kontrakan.

Tak terasa, kurang lebih setahun Mardi menjalani rutinitas tersebut. Setiap hari, dua liter beras yang dibuat jadi tiga puluh lontong laku terjual. Penghasilan bersihnya tiap kali jualan sekira Rp. 30.000-Rp. 40.000. Hati kecilnya berkata, jika uang itu dipakai bersama istri dan anaknya, maka akan terasa keberkahannya. Mardi kemudian memboyong kembali istri dan anaknya ke Jakarta.
Kehadiran Lamini meringankan beban kerja Mardi. Setidaknya, untuk urusan meracik bumbu atau mengolah kuah, Mardi menyerahkan kepada istrinya. Sementara itu, Mardi yang mulai memiliki waktu senggang, berusaha mencari pangkalan lontong sayur yang tepat dan ramai.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Ketika itu, Mardi belum juga menemukan tempat dagang yang sreg. Ia malah berjumpa Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) Masyarakat Mandiri (MM) Dompet Dhuafa. MM mengajaknya berorganisasi. Beberapa program dijelaskan MM, seperti pendampingan usaha, pelatihan dan bantuan. Mardi tertarik, lalu bergabung. Ia mengikuti setiap acara yang digagas MM. Semangat belajarnya memang tinggi.

“MM memberikan pinjaman modal. Saya langsung pake uang itu untuk beli dandang baru, memperbaiki gerobak, beli velk dan ban luar. Alhamdulillah…gerobak saya jadi seperti baru, deh…” Mardi tersenyum. 

Sepertinya gerobak ‘baru’ membawa bertumpuk berkah. Mardi mendapat pangkalan dagang strategis di Jalan MT Haryono, depan Gedung Nindya Karya. Pelanggan setianya orang-orang kantoran. Keuntungan meningkat jadi Rp. 70.000-Rp. 90.000.

“Alhamdulillah…kenaikan pemasukan berbarengan dengan kelahiran anak kedua saya, Rahmat Subekti,” tukasnya.

Tak lama berselang, Mardi dan istrinya dipercaya MM untuk mengelola Gerai Sembako Mandiri (GSM). Dari situlah ia mendapat tempat tinggal gratis dan gaji bulanan. Selain itu, Mardi ditunjuk sebagai bendahara koperasi ISM Bidaracina, binaan MM.

“Pak Mardi orang yang disiplin. Pagi hingga jam 11.00 jualan lontong. Lepas Dhuhur ngurus GSM, gantian sama istrinya. Menjelang tidur, ia rutin menulis pembukuan GSM,” seorang pendamping dari MM, Leni, angkat bicara. (LHZ)

Tulisan ini oleh tim media Dompet Dhuafa pernah dimuat di Harian Jurnal Nasional dan Situs www.eramuslim.com.

Diposting oleh
Diposting pada hari Selasa, 01 Desember 2009 09:36:21


<<-- Kembali


Sinergi & CSR


Pasar Modal Indonesia Bangun Sarana Air Bersih  di Kuningan dan Tangerang
Pasar Modal Indonesia Bangun Sarana Air Bersih di Kuningan dan Tangerang
Asistensi Koperasi Atsiri Wana Tiara
Asistensi Koperasi Atsiri Wana Tiara
Kiprah Bersama Lembaga Mendiang Anita Roddick
Kiprah Bersama Lembaga Mendiang Anita Roddick
4 Tahun Bersama JICA, Menggarap Desa
4 Tahun Bersama JICA, Menggarap Desa
Mendorong Kesejahteraan Warga Seputar PT Arun NGL
Mendorong Kesejahteraan Warga Seputar PT Arun NGL

HIGHLIGHT


 PENGUATAN USAHA MIKRO KECIL INDUSTRI RUMAH TANGGA BERBASIS KLUSTER MAKANAN RINGAN DI CIAMIS
PENGUATAN USAHA MIKRO KECIL INDUSTRI RUMAH TANGGA BERBASIS KLUSTER MAKANAN RINGAN DI CIAMIS
PENGEMBANGAN IRT MINYAK ATSIRI BERBAHAN SEREH WANGI BERBASIS KOMUNITAS PETANI LAHAN KERING
PENGEMBANGAN IRT MINYAK ATSIRI BERBAHAN SEREH WANGI BERBASIS KOMUNITAS PETANI LAHAN KERING
PEMBERDAYAAN PETANI DAN KELUARGANYA MELALUI PENGEMBANGAN USAHA KECIL BERBASIS SINGKONG
PEMBERDAYAAN PETANI DAN KELUARGANYA MELALUI PENGEMBANGAN USAHA KECIL BERBASIS SINGKONG
PROGRAM KPMS SURABAYA
PROGRAM KPMS SURABAYA
Empowerment Program for Cassava Farmers through Developing the Community Based-Agroindustries
Empowerment Program for Cassava Farmers through Developing the Community Based-Agroindustries
Pemberdayaan Pedagang Makanan di Kampus IPB
Pemberdayaan Pedagang Makanan di Kampus IPB
Economic Empowerment Program for Batik-Craftmen at Imogiri-Bantul, Yogyakarta
Economic Empowerment Program for Batik-Craftmen at Imogiri-Bantul, Yogyakarta
Pemberdayaan Ekonomi Korban Tsunami Ciamis
Pemberdayaan Ekonomi Korban Tsunami Ciamis
Gerakan Lima Kilogram Gula untuk Pendidikan
Gerakan Lima Kilogram Gula untuk Pendidikan
Pemulihan Ekonomi Situ Gintung
Pemulihan Ekonomi Situ Gintung
Telkomsel Berbagi Kemandirian
Telkomsel Berbagi Kemandirian
Ketahanan Pangan - Pemberdayaan Petani Ubi Jalar Kuningan
Ketahanan Pangan - Pemberdayaan Petani Ubi Jalar Kuningan
Pemberdayaan Kelompok Pengusaha Makanan Sehat
Pemberdayaan Kelompok Pengusaha Makanan Sehat
Micro Enterprise Empowering Program
Micro Enterprise Empowering Program

Woro-Woro


Protect Your System
Protect Your System
PELATIHAN PENDAMPING COMMUNITY DEVELOPMENT 2010
PELATIHAN PENDAMPING COMMUNITY DEVELOPMENT 2010

 
Spirit



Agar ISM Menjadi Lembaga Pembelajar
Agar ISM Menjadi Lembaga Pembelajar
“FACE TO FACE WITH MACHETE”
“FACE TO FACE WITH MACHETE”
SOCIAL ENTREPRENEUR : NOT ONLY GIVING THE HOOK
SOCIAL ENTREPRENEUR : NOT ONLY GIVING THE HOOK
BUILDING PARTNERSHIP FOR COMMUNITY STRENGTHENING
BUILDING PARTNERSHIP FOR COMMUNITY STRENGTHENING
SOCIAL WORKER VS SOCIAL ENTREPRENEUR
SOCIAL WORKER VS SOCIAL ENTREPRENEUR


Photo Gallery




Video Gallery


Klip Versi Batik Giriloyo
KLIP SPIRIT TAHU 2009
KLIP Jagung
Mursidi dari Desa Muara
REVITALISASI POSYANDU DI TANGERANG 2008
REVITALISASI POSYANDU DI TANGERANG 2007
REVITALISASI POSYANDU DI TANGERANG 2008 Bag. II
Pemberdayaan Keluarga Pekerja Migran
Pemberdayaan Keluarga Pekerja Migran - bag II
IKRAR MITRA
Griya Industri Gula Kelapa Pacitan
Micro  Entreprise Empowering Program Lhokseumawe

 

 
Designed & Developed By Solusi-IT.Com